Dubes Masaki Ungkap Cara Jepang Terapkan MBG: Butuh Waktu, Hadapi Banyak Masalah
·waktu baca 2 menit

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, bercerita soal negaranya yang juga menerapkan program Maan Bergizi Gratis (MBG) sejak lama. Dia menyatakan, untuk melaksanakan program itu membutuhkan waktu yang panjang.
"Butuh waktu agar sukses. Karena pertama, kami harus membuat sistem di dapur, distribusi, dan lain-lain. Dan juga ada beberapa sekolah, sehingga kami membutuhkan satu dapur pusat yang membuat makanan segar setiap hari, makanan yang seimbang ke sekolah-sekolah," kata Masaki dalam konferensi pers di Kedubes Jepang, Jakarta, Selasa (30/9).
Namun, Masaki menekankan untuk menyediakan makanan bagi pelajar tidak cukup dengan membangun dapur saja.
"Dan membuat dapur saja tidak cukup. Kita perlu menyuplai bahan segar. Jadi Jepang menghadapi banyak masalah, hingga akhirnya kami menemukan bahwa lebih baik suplai makanan dilakukan secara lokal. Karena jika kami mengimpor, tentu akan ada masalah kesegaran (bahan makanan) dan distribusi," jelasnya.
Masaki kemudian menyinggung kunjungannya ke Biak, Papua, untuk melihat secara langsung kemitraan pemerintah Jepang, UNICEF, dan Badan Gizi Nasional terkait pemberian makan bergizi bagi pelajar.
"Jadi di Papua, kami menilai bahwa ikan adalah sumber yang penting. Jadi kami sangat membantu meningkatkan fasilitas pelabuhan dekat sekolah, dan kami melakukannya bersama JICA sehingga bisa dikombinasikan untuk meningkatkan sistem MBG," tuturnya.
Menurut Masaki, wajar jika di awal pelaksanaan MBG sering ditemukan masalah. Apalagi, Indonesia adalah negara yang sangat luas.
"Jadi kadang Anda akan menemui masalah. Namun berdasarkan pengalaman kami, butuh waktu untuk mengkonstruksikan, membuat sistem makanan gratis. (Mulai dari) dapurnya, orang yang bekerja di dapur, dan distribusinya. Dan mungkin akan berbeda tergantung wilayahnya. Mungkin MBG di Jakarta berbeda dengan MBG di Papua, sehingga mungkin sistemnya berbeda," tuturnya.
