Dubes Rusia Tak Tahu Eks TNI AL Jadi Tentara Bayaran: Itu Tanggung Jawab Pribadi
ยทwaktu baca 2 menit

Nama Satriya Arta Kumbara sempat viral karena mengaku bergabung menjadi tentara bayaran Rusia dalam operasi militer di Ukraina. Ia sebelumnya merupakan prajurit Korps Marinir TNI AL.
Terkait hal ini, Duta Besar Rusia untuk RI Sergei Tolchenov mengaku tidak tahu keberadaan Satriya sebagai tentara bayaran yang berperang dengan Rusia.
"Tentang hal ini, saya hanya baca lewat media di Indonesia. Secara resmi saya menyampaikan bahwa Kedutaan Besar Rusia di Jakarta atau Kedutaan Besar Rusia di luar negeri tidak membuka pendaftaran (bagi warga negara asing) pasukan bersenjata Rusia. Jadi ketika saya mengetahui berita ini, saya bertanya kepada Atase Militer kami dan dia menyatakan tidak tahu soal informasi ini. Kami tidak tahu," kata Tolchenov dalam press briefing di Kediaman Duta Besar Rusia, Kuningan, Jakarta, Rabu (20/6).
Meski demikian, Tolchenov mengatakan pihaknya membuka pintu bagi warga negara asing yang berada di Rusia dan ingin bergabung dengan pasukan bersenjata Rusia. Ia mengungkapkan ada dua jalur bagi mereka yang ingin bergabung dengan militer Rusia.
"Pertama, bagi anak muda (di Rusia), wajib. Wajib militer satu tahun bagi anak muda. Tapi bagi sebagian besar anggota pasukan bersenjata Rusia, ini profesional. Mereka menandatangani kontrak dan mereka adalah warga negara Rusia dan di beberapa kasus bisa saja warga negara asing," jelasnya.
Atas dasar itu, Tolchenov mengatakan orang Indonesia bisa saja menandatangani kontrak menjadi anggota bersenjata Rusia selama masuk wilayah Rusia secara resmi dan sah.
"Dan sepertinya inilah yang dilakukan oleh (Satriya) orang ini. Tapi konsekuensi ditanggung sendiri, karena ada banyak negara yang melarang warga negaranya menandatangani kontrak dengan pasukan bersenjata asing. Contohnya negara seperti Australia, Selandia Baru, dan banyak negara lain melarang hal ini," tuturnya.
Tolchenov mengaku tidak tahu seperti apa aturan yang berlaku di Indonesia. Namun jika dilarang oleh konstitusi Indonesia, maka Satriya melakukan pelanggaran dan itu merupakan tanggung jawab pribadinya.
"Jika Kumbara melanggar aturan Indonesia, ini adalah tanggung jawab pribadi. Karena dia seharusnya memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan sebagai warga Indonesia. Ini adalah urusannya dengan pemerintah Indonesia," tegasnya.
Tolchenov kembali menegaskan sejauh ini tidak menerima permintaan apa pun baik dari Satriya, keluarganya, maupun dari pemerintah Indonesia.
"Secara pribadi saya, kedutaan saya, kami tidak menerima permintaan darinya, dari siapa pun, dari keluarganya, bahkan dari pemerintah Indonesia," pungkasnya.
