Duduk Perkara Rumah Doa Jemaat Kristen Dirusak Massa di Padang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

Polisi berjaga di Rumah Doa Jemaat Kristen di Padang yang dirusak warga, Senin (28/7/2025). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Polisi berjaga di Rumah Doa Jemaat Kristen di Padang yang dirusak warga, Senin (28/7/2025). Foto: kumparan

Salah satu rumah di Jalan Teratai Indah RT 02 RW 09 Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) dirusak massa.

Awalnya warga mengetahui rumah itu dipakai sebagai rumah singgah, bukan gereja. Aktivitas di rumah itu sudah ada sejak sekitar 3 bulan lalu.

Namun pada Minggu (28/7), seorang petugas pemasang listrik mendatangi kawasan tersebut. Petugas bertanya soal keberadaan gereja di sana untuk memasang aliran listrik.

Dalam surat resmi yang dibawa pemasang listrik dari perusahaannya, juga tertulis pelanggan atas nama Rumah Doa, Gereja, tempat kegiatan keagamaan.

Berawal dari sini, warga lalu mempertanyakan terkait keberadaan bangunan rumah tersebut pada Minggu (28/7) sore, massa warga ramai-ramai mendatangi rumah itu untuk mengklarifikasi.

Di saat itu, di rumah tersebut juga ada kegiatan yang disebut dilakukan oleh jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), anak-anak sedang melakukan pendidikan agama.

"Saya lagi duduk, sementara anak-anak belajar agama di dalam. Sesudah belajar agama anak ini, datang mereka (massa). Terjadi dalam seperti video itu," ujar Foarotambowo Nduru, salah satu jemaat yang saat kejadian berada di lokasi, Senin (28/7).

Ia menyebutkan jumlah massa ketika itu ada sekitar 30-an orang. Kemudian massa melakukan perusakan, kaca dipecah, kursi dan bangunan dirusak.

"Melakukan perusakan mungkin ada sekitar 30 orang, sembilan orang sudah diamankan," ungkapnya.

Kata Pak RT

Ketua RT setempat, Syamsir, menegaskan kedatangan massa warga awalnya hanya untuk mengklarifikasi tentang perubahan status bangun kepada pendeta. Awalnya yang diketahui warga sebagai rumah singgah, ternyata sudah menjadi gereja.

Namun, di saat dirinya mengklarifikasi kepada pemilik bangunan, terjadi kalimat provokasi. Kalimat tersebut yang jadi pemicu amarah warga.

"Ada pemicu, ada antara dia (jemaat). Itu yang kami sayangkan. Jadi itu pemicu timbulnya emosi massa hingga melakukan perusakan," jelasnya.

"Padahal nawaitu masyarakat pertama itu datang ke sana meninjau baik-baik. Mempertanyakan apa yang dilakukan di sana," ucap Syamsir.

Dikatakan Syamsir, warga setempat sejak awal sudah mewanti-wanti kepada pemilik bangunan perihal perubahan status bangun. Sebab, bangunan rumah itu terus berubah status.

"Pertamanya dia membangun, kedua rumahnya mau ditempati, ketiga ada untuk pendidikan anak, pendidikan agama. Anak yang butuh nilai di sekolah di sana dibina. Karena di sekolah negeri itu untuk memberikan mata pelajaran agama tidak ada di sekolah. Makanya dilaksanakan di sana," imbuhnya.

Selaku RT, pada saat itu Syamsir telah menyampaikan agar pemilik bangunan mengurus izin perubahan status bangunan. Akan tetapi, tiba-tiba warga mendapatkan informasi bawa rumah itu sudah menjadi rumah doa atau gereja.

"Dari tempat tinggal, setelah itu berubah jadi rumah singgah, lalu berubah menjadi tempat pendidikan agama untuk anak-anak. Tapi setelah saya dapat laporan dari warga, nyatanya melaksanakan ibadah sampai jam 10 malam. Itu bukan anak-anak lagi, tapi orang tua," bebernya.

Syamsir mengungkapkan, selaku ketua RT dirinya tidak pernah mengeluarkan izin tentang tempat ibadah.

"Saya kumpulkan informasi dan segala macamnya, ternyata sudah berubah sekian hari berjalan. Saya panggil pemilik bangunan, dia datang ke tempat saya, dia berjanji akan mengurus izinnya. Tapi setelah terjadi begini begitu, kemarin dia menyampaikan sama saya izin sudah keluar tapi tidak pernah sampai ke saya," tambahnya.

Dia menegaskan warga sekitar juga sangat toleran. Hal ini dibuktikan dengan lingkungan sekitar bermukim warga berbagai suku, mulai Nias, Batak hingga Minang.

"Warga kami rukun dan damai. Ada batak, Nias, Minang. Kami tidak intoleran, perlu diketahui, di RW 9 ada empat RT, pemukiman warga suku Nias ada di tiga RT. Tapi sejak ada pemilik bangunan ini, orang yang ke tempatnya 90 persen warga Nias dari luar," jelasnya.

Polisi berjaga di Rumah Doa Jemaat Kristen di Padang yang dirusak warga, Senin (28/7/2025). Foto: kumparan

9 Orang Diamankan

Wakapolda Sumbar Brigjen Pol Solihin mengatakan, polisi sudah mendatangi lokasi dan memastikan akan menindak pelaku.

"Setelah kejadian kami langsung ke lokasi dan mengamankan TKP. Anggota di lapangan sedang bekerja dan semua (sudah) aman dan tidak ada lagi yang bertindak anarkistis," kata Solihin kepada wartawan, Senin (28/7).

Sembilan orang yang diduga terlibat dalam aksi ini sudah diamankan polisi.

"Sembilan orang ini adalah yang sesuai di video yang ada, berdasarkan bukti-bukti itu kami amankan," ucap Solihin. Tak menutup kemungkinan jumlah yang diamankan akan bertambah.

Saat ini di lokasi terlihat sejumlah anggota polisi berjaga. Rumah doa itu juga sudah kosong dari jemaat.