Dudung Sertijab dengan Listyo Sigit: Tugas KSP Sangat Berat

Dudung Abdurachman menyerahkan jabatan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) kepada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di Kantor KSP, Jakarta, Senin (5/10).
Dalam sambutannya, Dudung mengatakan tugas Kepala Staf Kepresidenan sangat berat. KSP, kata dia, harus mengawal berbagai program prioritas hingga program strategis nasional Presiden.
“Tadi saya sudah serah terima tipis-tipis tadi di lapangan upacara Mabes TNI, bahwa pekerjaan KSP ini sangat berat. Jadi, yang pertama dia harus mengawal program prioritas presiden, program unggulan Bapak Presiden, kemudian program yang berkaitan dengan strategis nasional,” kata Dudung.
Dudung mengatakan KSP juga kerap turun tangan ketika persoalan lintas kementerian atau lembaga menemui jalan buntu.
“Artinya bahwa banyak hal-hal kegiatan-kegiatan dari kementerian-kementerian yang kemudian tidak masuk pada ujungnya atau tidak bisa diselesaikan, maka Kepala Staf Kepresidenan-lah yang menyelesaikan,” ujarnya.
Ia mencontohkan persoalan sumur gas yang sempat terkendala koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga PGN. Persoalan itu kemudian dibahas oleh KSP hingga akhirnya dapat diselesaikan.
“Banyak kegiatan-kegiatan seperti pertama-tama saya masuk di sini adalah masalah sumur gas yang tidak bisa dilakukan karena memang Pemda-nya demikian, provinsinya demikian, PGN-nya demikian. Tapi akhirnya kemudian oleh deputi dirapatkan satu-dua kali, kemudian tuntas, baru nanti KSP datang ke sana sudah selesai,” kata Dudung.
Menurut Dudung, salah satu kunci menjalankan tugas di KSP adalah keberanian mengambil keputusan. KSP, kata dia, dapat memanggil kementerian maupun aparat penegak hukum untuk memastikan program prioritas pemerintah berjalan.
“Tetapi memang satu Pak Sigit, cirinya hanya satu saja, kita harus berani. Kita bisa memanggil siapa pun, dari kementerian, dari kepolisian, dari kejaksaan, kemudian dari TNI yang berkaitan dengan program-program prioritas nasional,” tuturnya.
Ia juga menyinggung persoalan petani tebu di Lampung yang tidak dapat melakukan panen karena perusahaan terkait ditutup.
“Ada yang menonjol kemarin di Lampung ya. Lampung, jadi ada petani tebu yang sudah nanam tapi dia tidak bisa panen karena sudah ditutup perusahaannya. Sementara petani itu hanya hidupnya dari situ. Akhirnya dirapatkan, mereka sampai nangis-nangis di sini, kemudian akhirnya tuntas. Nah ini nanti dilanjutkan oleh Pak Sigit,” ucapnya.
Dudung menilai pengalaman Listyo di aparat penegak hukum akan membantu dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang masuk ke KSP.
“Saya rasa kalau Pak Sigit kan sudah berkecimpung di aparat penegak hukum, kaitannya juga nanti banyak simpul-simpul nanti. Jadi, Bareskrim sudah sering kita panggil di sini,” katanya.
Dudung kemudian menyebut sejumlah program yang harus terus dikawal KSP, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, Kampung Nelayan, hingga sejumlah program sekolah.
“Artinya hal-hal kecil yang menjadi program prioritas presiden, program unggulan Bapak Presiden, seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), Koperasi Merah Putih, kemudian Kampung Nelayan, Sekolah Rakyat, Sekolah Transmigrasi, Sekolah Garuda, kemudian Sekolah Nasional Terintegrasi, dan banyak kegiatan-kegiatan yang lain,” ujarnya.
Dudung turut menyinggung eksplorasi gas di kawasan Indramayu, Bekasi, dan Karawang yang menurutnya memiliki potensi besar, tetapi sempat terkendala persoalan lahan.
“Kemarin yang paling penting adalah eksplorasi gas di sekitar Indramayu, Bekasi, Karawang. Ini kandungannya sampai 24 triliun. Seperti kemarin di Bojonegoro itu satu harinya bisa 25 barel per hari. Cuma karena ini LSD (Lahan Sawah Dilindungi), tanah ini harus diserahkan ke Kementerian Agraria, bupati, prosesnya lama,” katanya.
Ia mengatakan persoalan seperti itu membutuhkan keberanian pemimpin untuk segera mengambil keputusan.
“Saya langsung: 'Udah, gini aja, kita ambil keputusan, kita tanda tangan, kita buat kesepakatan. Kalau membuat aturan itu terlalu lama.' Ini pun sudah terhambat-hambat,” pungkasnya.
