Duet Ganjar-Puan Dinilai Lemah, Sulit Dapat Suara di Luar PDIP

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Foto: kumparan

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai duet Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua DPR RI Puan Maharani sebagai capres dan cawapres di 2024 lemah. Menurutnya, pasangan Ganjar-Puan akan membuat PDIP kehilangan suara pemilih yang lebih luas dari benefit koalisi.

"Kalau PDIP mau bisa terwujud, karena PDIP satu-satunya partai yang bisa usung capres dan cawapres tanpa koalisi mengingat presidential threshold PDIP 20%. Tapi pemilu, kan, bukan soal bisa daftar ke KPU atau tidak, tapi [juga soal] memperbesar pemilih," kata Adi saat dihubungi, Selasa (8/2).

"Makanya di situ butuh koalisi. Kalau Ganjar-Puan duet akan menguatkan basis pemilih PDIP, mesin politik yang makin menguatkan konsolidasi partai. Tapi untuk menyasar pemilih di luar PDIP akan susah. Tidak ada faktor lain di capres/cawapresnya," imbuh dia.

Adi menekankan dalam pemilu, koalisi dengan partai lain penting sebagai upaya melebarkan jalur pemilih dan memperkuat mesin politik. Koalisi PDIP dengan Gerindra, misalnya, dinilai lebih berpeluang untuk kemenangan PDIP di 2024, dibandingkan tanpa koalisi.

kumparan post embed

"Misal di pemilih Islam, enggak ada di posisi Ganjar atau Puan karena keduanya sama-sama nasionalis. Kalau dengan Gerindra, kan, akan ada jalur pemilih Gerindra yang akan nambah insentif elektoral," ujarnya.

Sementara itu, Adi melihat fenomena dukungan Ganjar dan Puan seperti Laskar Ganjar Puan (LGP) hanya untuk meredam gejolak internal PDIP yang masing-masing mendukung keduanya sebagai capres. Menurutnya, kecil kemungkinan keduanya betul-betul diduetkan.

"Itu bagus, keduanya tidak lagi dihadap-hadapkan, tapi sama-sama kader PDIP yang layak diusung satu sama lain. Tinggal Ketua Umum Megawati yang menentukan. Tapi realitas politiknya, kok, rasa-rasanya saya termasuk yang pesimis PDIP akan usung Puan dan Ganjar," jelas Adi.

"Ya, karena itu menutup koalisi dengan PDIP. Gerakan politik partisipatif supaya kader PDIP di bawah tidak lagi gontok-gontokan, tidak lagi dukung Ganjar atau Puan, dengan usung keduanya. Itu aja LGP itu," tambahnya.

Kendati demikian, Adi berpendapat Puan akan bersedia menjadi wakil Ganjar jika memang diamanatkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Ia melihat keputusan Ketum adalah mutlak di PDIP.

Megawati Soekarnoputri dan Ganjar Pranowo. Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

"Kalau Ketum beri fatwa politik, saya kira akan taat, ya. Samina wa atho'na, patuh 100 persen. Karena di PDIP, kan, prinsipnya penugasan. Kalau sudah Ketum memutuskan, mau Puan nomor satu atau dua, mau Ganjar nomor satu atau dua, pasti akan taat, diikuti. Pada PDIP, kan, Ketum the one and only, yang bisa tentukan segala-galanya," papar Adi.

Adi juga menekankan bahwa Megawati punya kepentingan melanjutkan politik Soekarno dan membuat PDIP menjadi kontestan politik yang layak diperhitungkan melalui Puan. Tetapi menurutnya, Megawati juga akan realistis memilih Ganjar jika harus.

"Karena apa pun judulnya dia besar karena politik Soekarno. Tapi saya baca end of the day, Megawati akan realistis kalau nanti muncul elektabilitas Puan tidak terlampau kuat setelah sosialisasi dan kerja-kerja politik. PDIP akan dukung kader terbaiknya yang memiliki elektabilitas tinggi seperti Ganjar," terang Adi.

"Kalau secara manusiawi Megawati pasti ingin liat Puan jadi kontestan di Pilpres 2024. Tapi kalau lawan-lawan yang bermunculan kuat, sementara elektabilitas Puan tidak naik signifikan, kok, rasa-rasanya Megawati akan realistis usung kader mereka yang elektabilitasnya tinggi. Ya, Ganjar Pranowo," tandasnya.

Dukungan duet Ganjar dan Puan makin marak belakangan ini di sejumlah daerah. Terbaru, DPD Laskar Ganjar Puan atau LGP Jawa Timur memberikan dukungannya kepada dua elite PDIP itu untuk maju Pilpres 2024.

Ketua DPC PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo atau FX Rudy menegaskan soal Pilpres adalah keputusan Megawati. Meski ia menilai jika duet itu direstui Ketum, tidak akan ada gesekan di antara kedua pendukung.