Dugaan Pelecehan Santriwati di Ponpes Bekasi, Warga: Belum Pernah Ada

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Pondok Pesantren Dar et Tauhid di Kampung Poncol, Bulak, Bekasi Selatan, yang menjadi lokasi dugaan pelecehan terhadap santriwati, Sabtu (10/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Pondok Pesantren Dar et Tauhid di Kampung Poncol, Bulak, Bekasi Selatan, yang menjadi lokasi dugaan pelecehan terhadap santriwati, Sabtu (10/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Dar Et Tauhid di Bekasi Selatan, berinisial MHH, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap belasan santriwati.

Seorang warga sekitar yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku tidak pernah mendengar adanya kasus serupa di Ponpes itu sebelumnya.

Ia baru mengetahui kasus itu pada Kamis (8/10) malam, sehari setelah adanya aduan kekerasan seksual di Ponpes tersebut.

“Belum pernah. Belum ada. Kalau yang saya tahu ini tuh belum ada,” kata seorang warga saat ditemui kumparan di lokasi, Sabtu (10/10).

Pantauan kumparan di lokasi, ponpes tersebut tampak sepi. Tak terlihat aktivitas dari para santri dan pengurus ponpes. Menurut warga, tiap akhir pekan para santri memang cenderung hanya berada di dalam lingkungan ponpes.

Kondisi Pondok Pesantren Dar et Tauhid di Kampung Poncol, Bulak, Bekasi Selatan, yang menjadi lokasi dugaan pelecehan terhadap santriwati, Sabtu (10/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Ia mengaku terkejut karena selama ini tidak mengetahui adanya dugaan perbuatan tersebut. Menurutnya, MHH merupakan anak dari kiai pendiri Ponpes berinisial A, dan selama ini dikenal warga sebagai sosok yang mengajar serta mengisi pengajian.

“Kalau ngaji tuh enak banget sampai adem. Kita tuh ngerasain udah benar-benar kayak seperti kiai gitu,” jelasnya.

Warga tersebut juga mengaku selama ini merasa segan terhadap MHH lantaran statusnya sebagai anak kiai. Dalam kesehariannya, MHH juga disebut sudah biasa berinteraksi dengan anak-anak di lingkungan Ponpes.

“Biasa (berinteraksi). Biasa. Ya namanya dia gus ya, anaknya kiai, ya kita sungkan,” ungkapnya.

Kondisi Pondok Pesantren Dar et Tauhid di Kampung Poncol, Bulak, Bekasi Selatan, yang menjadi lokasi dugaan pelecehan terhadap santriwati, Sabtu (10/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Menurut dia, MHH sudah menjadi pimpinan Ponpes sekitar empat tahun. Bahkan sebelum menjabat, MHH juga sudah menjadi guru di Ponpes tersebut.

“Sepengetahuan saya ada kali udah 4 tahunan yang ini, 4 tahunan. Mengajar kan masih guru berarti kan. Tapi kan sekarang itu dia menjabatnya kayak kepala sekolah. Sebelum itu dia udah ini, udah mengajar,” terangnya.

Ia pun sangat tidak menyangka MHH terlibat perkara pelecehan tersebut.

“Enggak nyangka benar-benar enggak nyangka sama sekali,” tandasnya.

Sudah Ada Ortu yang Jemput

Kondisi Pondok Pesantren Dar et Tauhid di Kampung Poncol, Bulak, Bekasi Selatan, yang menjadi lokasi dugaan pelecehan terhadap santriwati, Sabtu (10/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Usai kasus tersebut mencuat, seorang orang tua santri diketahui sudah ada yang datang ke Ponpes untuk menjemput anaknya pada Jumat (9/10) pagi.

“Ya baru tadi pagi. Baru tadi pagi dia entah ada yang mau dijemput,” kata seorang warga di lokasi.

Namun, orang tua tersebut belum bisa masuk ke area Ponpes. Ia menjelaskan, orang tua itu belum bisa masuk karena akses menuju area tertentu di lingkungan Ponpes tertutup.

Meski begitu, ia tidak mengetahui secara pasti alasan orang tua tersebut belum dapat menjemput anaknya.

“Cuma belum bisa (dijemput). Belum bisa masuk karena mungkin hari ini hari libur kali atau gimana. Enggak tahu juga alasannya kenapa, gitu,” jelasnya.

Lebih jauh, warga tersebut menjelaskan, area santri putra dan putri di Ponpes itu memang terpisah. Area santri putri berada di lantai atas bangunan yang juga digunakan untuk sekolah dasar (SD), sehingga aksesnya lebih tertutup.

“Jadi sebenarnya santri putri sama santri putra kan beda. Kalau putri tertutup memang karena bawahnya lantai SD itu. Gitu, atasnya baru santri putri, tertutup. Putri sama putra tuh misah,” tuturnya.

Hingga Oktober 2026, polisi telah mengidentifikasi lebih dari 10 korban dalam kasus tersebut.

Kasat Reserse PPA dan PPO Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Rosdiana Sirait, menyampaikan penyidik saat ini tengah mendalami keterangan tersangka dan mencocokkannya dengan temuan alat bukti serta keterangan para saksi.

"Berdasarkan hasil penyidikan, MHH telah ditetapkan sebagai tersangka. Kami terus mendalami dugaan perbuatannya, termasuk hubungan yang bersangkutan dengan korban serta kedudukannya di lingkungan pesantren," ujar Rosdiana.