Duka Afghanistan Akibat Gempa Dahsyat: Ribuan Jiwa Tewas, Tangisan di Mana-mana

Gempa berkekuatan 6,1 magnitudo sedalam 10 kilometer mengguncang wilayah pegunungan timur di Afghanistan pada Rabu (22/6/2022) pukul 1.24 pagi waktu setempat.
Gempa paling mematikan yang melanda Afghanistan dalam berdekade-dekade terakhir tersebut terjadi saat negara itu sedang bergulat dengan kelaparan dan krisis ekonomi, usai pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban.
Hampir separuh populasi negara itu mengalami kelaparan akut. Pemerintahan Taliban hanya memperparah keadaan ekonomi yang sudah bergantung erat pada bantuan. Barat telah membekukan sekitar USD 7 miliar (Rp 103,8 triliun) cadangan devisa negara itu dan memotong pendanaan internasional.
Ekonomi Afghanistan lantas terjun bebas membawa standar hidup rumah tangga hingga terperosok. Krisis kemanusiaan hanya kian memburuk lantaran bencana alam kerap melanda negara tersebut.
Kini, tim penyelamat masih berjuang di bawah guyuran hujan demi menarik orang-orang dari puing-puing seiring korban jiwa terus berjatuhan. Penduduk desa menggali parit untuk menguburkan tetangganya yang tewas, sedangkan bantuan menuju pelosok terhambat oleh tanah longsor.
Korban Gempa
Provinsi Paktika menanggung dampak terparah akibat bencana tersebut. Kepala Departemen Informasi dan Budaya Paktika, Mohammad Amin Hozaifa, melaporkan jumlah korban jiwa yang telah mencapai angka mengerikan hanya dalam sehari.
Hozaifa menjelaskan, setidaknya 1.000 orang tewas dan 1.500 lainnya terluka di Distrik Gayan dan Barmal di provinsi tersebut per Kamis (23/6/2022).
Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlanjut hingga kini, sehingga jumlah korban tewas kemungkinan akan terus merayap naik.
Para korban masih berangsur dilarikan ke rumah sakit di Sharan, Paktika, dan Urgun.
Rumah sakit di ibu kota Provinsi Paktikan, Sharan, menaungi puluhan korban dalam satu ruangan.
"Ke mana saya akan pergi, ke mana saya akan pergi?" tanya seorang pasien berusia 55 tahun yang mendapati puluhan anggota keluarganya telah tewas akibat gempa, Bibi Hawa.
Gempa bumi melanda daerah-daerah yang sudah terkena dampak hujan lebat. Longsoran batu dan tanah longsor lantas mempersulit jangkauan upaya penyelamatan.
"Itu adalah situasi yang mengerikan," ujar pasien lain, Arup Khan.
"Ada tangisan di mana-mana. Anak-anak dan keluarga saya berada di bawah lumpur," lanjut dia.
Gempa itu menghantam sekitar 46 kilometer dari Khost. Provinsi tersebut melaporkan 25 sedikitnya 25 korban jiwa dan 100 korban cedera.
Pemimpin Afghanistan, Hibatullah Akhundzada, memperingatkan bahwa korban jiwa akan terus bertambah.
"Orang-orang menggali kuburan demi kuburan," ujar Huzaifa.
"Orang-orang masih terjebak di bawah reruntuhan," sambung dia.
Kerusakan Gempa
Ahli pengelolaan sumber daya air di Afghanistan, Najibullah Sadid, mengatakan bahwa gempa itu terjadi bertepatan dengan hujan lebat.
Alhasil, rumah-rumah tradisional yang terbuat dari lumpur dan bahan alami lainnya menjadi rentan terhadap kerusakan.
"Ini adalah rumah yang sangat sederhana yang terbuat dari batu bata lumpur yang sangat mudah hancur," terang Kepala Komunikasi, Advokasi dan Keterlibatan Masyarakat UNICEF, Sam Mort.
"Kami menempatkan beberapa tim ke beberapa daerah, tetapi lebih banyak daerah pedesaan dan terpencil yang terkena dampak tanah longsor, kami mendapati hujan dalam 48 jam terakhir, kami menghadapi jalanan yang diblokir, jadi lebih sulit untuk sampai ke beberapa daerah itu," tambahnya.
Gempa itu berlangsung pada dini hari ketika masyarakat tengah tertidur. Akibatnya, PBB menerangkan, orang-orang masih terjebak di bawah puing-puing. Jalanan, pasokan listrik, dan infrastruktur lainnya juga rusak parah.
"Waktu gempa di gelap malam dan kedalaman dangkal 10 kilometer dari pusat gempa menyebabkan korban yang lebih tinggi," ujar Sadid.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, lebih dari 2.000 rumah hancur di Afghanistan. Rumah tangga di negara itu memiliki rata-rata 20 anggota keluarga. Terkadang mereka tinggal dalam satu rumah.
Wakil Utusan PBB di Afghanistan, Ramiz Alakbarov, mengatakan, jumlah orang telantar akan terus bertambah. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan, Abdul Qahar Balkhi, memperkuat perkiraan tersebut.
Dia mengungkap, gempa itu telah meratakan desa-desa ke tanah.
Guncangan gempa telah menghancurkan 600 rumah, masjid, dan pertokoan di Provinsi Khost. Di Provinsi Paktika, Gayan menghadapi kerusakan terbesar.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan, hingga 1.800 rumah telah luluh lantak di distrik tersebut. Angka itu mencakup sekitar 70 persen perumahan di Gayan.
