Duka Trump atas Kematian Charlie Kirk: Momen Gelap bagi Amerika
·waktu baca 2 menit

Duka mendalam dirasakan Presiden Donald Trump usai influencer sayap kanan Charlie Kirk ditembak mati di Utah, Rabu (10/9). Trump memerintahkan bendera setengah tiang dikibarkan demi menghormati Kirk.
Semasa hidup Kirk adalah orang dekat Trump. Bahkan Trump sampai menyempatkan diri mengheningkan cipta di Gedung Putih sesaat setelah mendengar kabar duka soal Kirk.
“Ini momen gelap bagi Amerika,” kata Trump seperti dikutip dari AFP.
Tanpa ragu Trump menyematkan julukan martir kebenaran bagi Kirk, yang komentar-komentarnya kerap mengundang pro-kontra.
“Pemerintahan saya akan menemukan setiap orang yang berkontribusi pada kekejaman ini, dan kekerasan politik lainnya, termasuk organisasi yang mendanai dan mendukungnya,” tegas Trump.
Trump lalu menyalahkan orang-orang disebutnya sebagai kiri radikal yang gila penyebab Kirk ditembak mati saat sedang debat di Utah. Sebutan itu biasanya dialamatkan Trump kepada rival politiknya.
“Selama bertahun-tahun, mereka yang berhaluan kiri radikal telah membandingkan orang Amerika yang hebat seperti Charlie dengan Nazi dan pembunuh massal serta penjahat terburuk di dunia," kata Trump.
"Retorika semacam ini secara langsung bertanggung jawab atas terorisme yang kita saksikan di negara kita saat ini, dan harus dihentikan sekarang juga,” sambung dia.
Jasa
Kirk dikenal karena kerap debat terbuka soal agama dan kebijakan sayap kanan. Ketika menang pemilu Trump melontarkan pujian terhadap Kirk.
Pujian itu datang bukan tanpa alasan. Kirk adalah pendiri kelompok muda konservatif terbesar di AS, Turning Point USA.
Lewat organisasi itu, Kirk berhasil mengumpulkan suara anak muda untuk memenangkan Trump pada pemilu November 2024 lalu.
Setelah berkuasa, Kirk masuk ke kelompok influencer konservatif pro-Trump, yang bertujuan menyebarkan nilai-nilai dan agenda sang Presiden.
Kirk pun acap kali menggelar debat terbuka di berbagai kampus. Ia tak ragu menjawab pertanyaan soal agama, kebijakan anti-aborsi, imigrasi sampai konflik Israel-Palestina. Dirinya juga mengkritik media arus utama.
