Dukungan Israel Sama dengan Membunuh Lebih Banyak Orang Palestina

23 Oktober 2023 19:01 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Perdana Menteri Palestina Mohammed Ibrahim Shtayyeh (kiri) memberikan keterangan kepada media usai pertemuan dengan Menhan Prabowo Subianto di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (26/10/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Palestina Mohammed Ibrahim Shtayyeh (kiri) memberikan keterangan kepada media usai pertemuan dengan Menhan Prabowo Subianto di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (26/10/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Perdana Menteri Palestina, Mohammed Shtayyeh, mengatakan bahwa dukungan internasional yang diberikan untuk Israel adalah izin untuk melakukan pembunuhan dan kerusakan lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
Dalam misinya menghancurkan Hamas beserta petinggi-petingginya, Israel — yang menerima bantuan persenjataan dari Amerika Serikat telah memborbardir Jalur Gaza selama 17 hari berturut-turut.
Dikutip dari Anadolu Agency, menurut pernyataan yang dirilis kantor Perdana Menteri Palestina seruan tersebut disampaikan Shtayyeh di hadapan para duta besar, perwakilan, dan utusan berbagai negara dalam sebuah pertemuan di Ramallah pada Minggu (22/10).
Shtayyeh menyerukan dihentikannya serangan Israel tanpa bulu ke Jalur Gaza dan diizinkannya bantuan kemanusiaan untuk memasuki wilayah kantong yang merupakan rumah bagi lebih dari 2 juta orang Palestina itu.
"Shtayyeh menyerukan kepada masyarakat internasional dan negara-negara persaudaraan untuk menciptakan sebuah front persatuan untuk menghentikan agresi terhadap rakyat kami, dan rencana pengungsian dan invasi darat ke Jalur Gaza, serta menekan Israel untuk mengizinkan masuknya bantuan medis dan bantuan," bunyi pernyataan kantor Shtayyeh.
Asap mengepul di udara di atas Gaza setelah pemboman Israel, terlihat dari perbatasan Israel dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, Senin (16/10/2023). Foto: Amir Cohen/REUTERS
Orang nomor satu di pemerintahan Palestina tersebut menekankan perlunya menciptakan jalur politik yang efektif untuk mengakhiri pendudukan penjajah Israel, mencapai two-state solution, serta mendirikan negara berdaulat Palestina.
ADVERTISEMENT
Namun, menurut Shtayyeh, pemerintahan ultranasionalis Israel pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menerapkan kebijakan yang 'memecah belah' dan semakin memisahkan Palestina dari harapan terwujudnya two-state solution.
"Pemerintah Israel telah mengikuti strategi penghancuran sistematis terhadap kemungkinan two-state solution," jelasnya.
Dia kemudian menyinggung soal kebijakan terbaru Netanyahu yang mempersenjatai pasukan keamanan sipil hingga warga sipil di Israel, menyusul pencegahan terjadinya kekerasan antaretnis Yahudi dan Arab.
"Selain agresi terhadap rakyat kami di Jalur Gaza, kami di Tepi Barat juga menjadi sasaran terorisme dari tentara dan pemukim Israel. Ada seruan untuk mendorong para pemukim mengangkat senjata," ujar Shtayyeh.