Dulu Ahok Tutup Stadium, Kini Anies Cabut Izin Alexis

Pemprov DKI baru saja tak memperpanjang izin hotel dan pusat hiburan Alexis, Jakarta Utara. Karena ini, semua kegiatan yang ada di Alexis otomatis ilegal. Izin Alexis berakhir 29 Agustus kemarin.
Apa yang dilakukan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno ini membuat kita mungkin teringat dengan apa yang dilakukan oleh pejabat terdahulu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang pernah menutup tempat hiburan sejenis Alexis yakni Stadium dan Miles.
Namun baik Anies dan Ahok memiliki caranya sendiri ketika menutup tempat hiburan di ibu kota tersebut. Berikut perbandingannya:
1. Ahok Tutup Stadium dan Miles
Ahok menutup Stadium dan Miles karena ada peristiwa yang melatarbelakangi. Alasannya adalah peredaran narkoba yang didapati di kedua tempat tersebut.
Ahok menutup Stadium pada Mei 2014. Penyebab Ahok menutup Stadium adalah tewasnya Bripda Jacky Vay Gumerang, anggota Polres Minahasa Selatan, yang dipastikan karena overdosis narkoba pada 16 Mei 2014.

Sehari setelah kejadian tersebut, Ahok yang kala itu masih menjadi wakil gubernur langsung menutup Stadium. Penutupan Stadium ini kemudian sempat diprotes oleh pemilik dan pengusaha hiburan malam.
Namun Ahok tetap berkukuh karena menurutnya ia tak ingin lebih banyak orang meninggal di Stadium karena narkoba.
"Kalau bisnis narkoba bisa pelihara 3 juta orang bisa hidup. Lu gimana, Pak? Lu legalin narkoba juga? 3 Juta orang lu serap tenaga kerja. Emang saya pikirin, sudah gue bilang dua kali kalau ketangkap bukan pemda yang tega, tapi kalian dong yang tega. Kamu itu lucu kok tanya ke saya," kata Ahok, Jumat, 23 Mei 2014.
Beberapa hari setelah penutupan Stadium, polisi terus mengembangkan penyelidikan. Hingga sepekan berselang, polisi berhasil menemukan ribuan ekstasi di salah satu sudut Stadium.
Saat menjadi gubernur menggantikan Joko Widodo, Ahok kembali beraksi. Pada Oktober 2016, Ahok menutup diskotek Miles.
Penyebabnya adalah ditangkapnya perwira polisi AKP Sunarto yang membawa sabu dan ekstasi. Saat itu Ahok menegaskan, ia akan menutup semua diskotek yang ada kalau terbukti ada peredaran narkoba di dalamnya.
2. Anies Tutup Alexis

Hari ini, Selasa (30/10), Anies mengumumkan bahwa hotel dan griya pijat Alexis resmi tidak boleh beroperasi kembali. Ia mengatakan, Pemprov DKI tidak memperpanjang izin Alexis yang sudah berakhir sejak 29 Agustus 2017.
Sedari awal masa kampanye Pilkada DKI 2017, Anies memang dalam beberapa kesempatan menjanjikan akan menutup Alexis jika terpilih menjadi gubernur. Alasannya, karena ia melihat banyak penyimpangan yang terjadi di tempat hiburan yang berlokasi di Jalan RE Martadinata, Pademangan, Jakarta Utara.
Ia juga mengatakan, Alexis menjadi tempat peredaran narkoba. Jadi, baginya tak ada alasan untuk tidak menutup Alexis.
"Ya, ya (ditutup). Saya sampaikan kita sudah kerja susah-susah, narkoba dibiarkan begitu saja. Rusak semuanya. Karena itu, kita serius kemarin," ujar Anies di sela-sela kampanye di Jakarta, Sabtu (14/1).

Anies mengatakan, ia mengetahui adanya penyimpangan di Alexis karena banyaknya keluhan dari warga. Ia juga kerap kali membaca pemberitaan di media massa terkait praktik-praktik yang dianggap bisa merusak moral warga Jakarta ada di Alexis.
"Kita tegas. Kita tidak menginginkan Jakarta menjadi kota yang membiarkan praktik-praktik prostitusi. Dan kita mendengar laporan, mendengar keluhan dari warga, dan juga pemberitaan-pemberitaan. Karena itu, seperti juga kita sampaikan selama kampanye, kemarin bahwa kita akan mengambil sikap tegas kepada Alexis," beber dia.
"Karena itu kemudian kita mengambil keputusan untuk tidak meneruskan izin usaha bagi Alexis. Sekarang sudah dijalankan, nanti kita akan awasi, tapi yang pasti sudah dikeluarkan surat dari Pemprov yang tidak mengizinkan untuk praktik usahanya berjalan terus," imbuhnya.

