Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Eep Saefulloh: Politik Identitas Tak Bisa Dipakai di Pilpres 2024
7 Februari 2024 2:20 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Direktur lembaga survei Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, menilai strategi politik identitas yang "populer" digunakan di Pilgub DKI 2017 lalu tak bisa digunakan di Pilpres 2024. Salah satu alasannya adalah karena Pilpres 2024 punya tiga kandidat dan ketiganya sama-sama beragama Islam.
ADVERTISEMENT
"Jadi tidak akan bisa, politik identitas tidak bisa dipakai. Dan menurut saya salah satu kelebihan Pilpres 2024 itu adalah bahwa pasangannya tiga. Sehingga tidak lagi hitam-putih. Di situlah politik yang memecah belah itu agak sulit dilakukan," ucap Eep di talkshow kumparan, Info A1, dikutip Rabu (7/2).
Dalam survei yang dilakukan Polmark pun, kata Eep, ada pertanyaan soal apakah responden bersedia dipimpin oleh orang yang berasal dari suku dan ras yang berbeda. Hasilnya, mayoritas responden mengaku bersedia.
Meski, kata Eep, jika menyangkut soal perbedaan agama, jumlah responden yang menolak jumlahnya relatif lebih besar. Namun untuk perbedaan identitas lainnya tak terlalu berpengaruh signifikan.
"Dan sekarang tidak ada yang beda agama, ketiga pasangan itu muslim semua. Dan ada Gus Imin, ada Gus Mahfud, ada Gus Gibran, itu muslim semua itu. Siapa tahu nama depannya Gibran, Agus," canda Eep.
ADVERTISEMENT
Eep lalu menjelaskan, sentimen agama di Pilgub DKI 2017 begitu terasa sebenarnya merupakan fenomena yang sangat unik. Salah satu pemicu utamanya adalah pidato blunder Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu.
"Itulah yang menyebabkan kemudian kemarahan itu jadi kemarahan nasional. Karena identitas yang dilabrak itu identitas yang melampaui itu. Jadi itu luar biasa itu. Jadi menurut saya juru kampanye terbaik untuk Anies-Sandi namanya Basuki Tjahaja Purnama pada waktu itu, menurut saya," ungkap Eep.
Sedangkan di Pilpres 2024, ketimbang sentimen agama atau identitas, menurut Eep yang lebih terasa adalah konflik internal salah satu partai yang melebar ke mana-mana. Hal ini, jelas Eep, merujuk "pertikaian" antara Presiden Jokowi dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
ADVERTISEMENT
"Nah di sisi yang lain, survei-survei itu menunjukkan bahwa itu tadi, kesulitan hidup sedang sangat sulit ya karena prolognya pandemi. Pandemi melahirkan potensi resesi. Kesulitan hidupnya tidak hilang, pandemi hilang, pemilu datang. Maka kemudian kesulitan hidup itu masih jadi ciri penting pemilih. Jadi siapa pun yang menang memang harus masuk ke isu itu," tutupnya.
Simak cerita Eep selengkapnya di video berikut ini: