Eijkman: Harga Tes PCR Bisa Rp 450 Ribu-Rp 550 Ribu Asal Biaya Pajak Dikurangi
·waktu baca 2 menit

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memberikan tanggapan terhadap pernyataan Presiden Jokowi terkait harga tes PCR. Jokowi meminta harga tes PCR diturunkan menjadi Rp 450 hingga Rp 550 ribu.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, mengatakan bisa saja harga tes PCR di RI menjadi Rp 450 sampai Rp 550 ribu. Namun, harus ada sejumlah biaya komponen atau layanan tes yang disubsidi pemerintah.
“Dimungkinkan jika sebagian besar biaya-biaya ditiadakan atau ditanggung pemerintah,” kata Amin kepada kumparan, Minggu (15/6).
Sebelumnya, Amin menerangkan harga tes PCR mahal karena produknya impor. Oleh sebab itu, harga tes PCR di Indonesia belum bisa mencapai di bawah Rp 100 ribu.
Tetapi harga tes PCR bisa diturunkan menjadi Rp 450 ribu-Rp 500 ribu seperti permintaan Jokowi, jika bea masuk dan pajak dikurangi atau ditiadakan.
“Setidaknya bea masuk dan pajak-pajak,” ucap Amin.
Sementara Ketua Umum PP PDS PatKLIn, Prof Aryati, menerangkan ada berbagai macam PCR yang masuk ke Indonesia. Namun secara umum, ada dua jenis yang dipakai yakni open system dan closed system.
Aryati menuturkan, harga PCR yang bermetode closed system dibanderol cukup mahal oleh distributor. Kata dia, harga tes PCR jenis ini tak mungkin bisa di bawah Rp 700 ribu.
“Closed system itu bisa menjamin untuk mengurangi risiko kontaminasi, termasuk keterampilan petugas. Ruangan juga bisa lebih ringkas dan lain-lain. Nah, closed system ini rata-rata jauh lebih mahal daripada open system,” kata Aryati.
“Jadi memang agak sulit dibuat harga satu unit PCR. Menurut saya kalau harga buat closed system seperti menggunakan Abbott M2000i, GeneXpert, Pockit, itu harga jualnya dari distributor memang sudah mahal. Enggak mungkin bisa di bawah Rp 700 ribu,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Aryati menyebut kalau alat tes PCR bermetode open system, bisa dijual lebih murah di bawah Rp 500 ribu. Tetapi, ia mengingatkan masih ada biaya penunjang untuk menjaga kualitas hasil tes PCR tersebut.
“Memang bisa di harga jual ke masyarakat seperti di bawah Rp 500 ribu karena banyak manualnya. Tapi tentu lebih rawan macam-macam hal termasuk perlu keterampilan petugas yang tinggi. Membuat lab yang memenuhi syarat juga tidak murah," ucap Aryati.
"Kemudian menjaga kualitas agar tidak terjadi kontaminasi, belum lagi perlu pengulangan-pengulangan kalau target gen yang keluar hanya satu dan lain-lain,” tutur dia.
Sebelumnya, mahalnya harga tes PCR di Indonesia dibandingkan dengan India dikeluhkan sejumlah pihak. Sebab, Pemerintah India telah menurunkan harga tes PCR menjadi 500 Rupee atau setara Rp 96 ribu.
Jokowi akhirnya meminta Menkes Budi Gunadi Sadikin untuk menurunkan harga tes PCR. Ia meminta harga tes PCR diturunkan ke Rp 450 ribu-Rp 550 ribu.
