Eijkman Paling Khawatirkan Varian Corona Afsel: Kurangi Efektivitas Vaksin 10%

23 Maret 2021 16:44 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio. Foto: Youtube/@DPMPTSP DKI Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio. Foto: Youtube/@DPMPTSP DKI Jakarta
ADVERTISEMENT
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan varian baru virus corona Afrika Selatan B.1.351 adalah varian baru corona yang paling berbahaya. Menurutnya, varian ini harus lebih diwaspadai dibandingkan varian B1117 asal Inggris dan varian N439K asal Skotlandia yang baru-baru ini masuk ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Yang paling dikhawatirkan sebenarnya yang (varian baru) Afrika Selatan. Beberapa perusahaan vaksin mengamati ada penurunan sekitar 10 persen dari efektivitasnya (terhadap varian Afrika Selatan). Tapi penurunan itu belum sampai di bawah 50 persen, jadi misalnya dari 70 ke 60 persen," kata Amin kepada kumparan, Selasa (23/3).
Meski efektivitas vaksin terhadap varian corona Afrika Selatan belum turun signifikan, Amien menilai varian ini harus terus dicermati. Apalagi Indonesia masih jauh dalam memenuhi target vaksinasi untuk mencapai herd immunity.
Ilustrasi positif terkena virus corona. Foto: Shutter Stock
Varian B1117 asal Inggris dikhawatirkan memiliki penyebaran yang lebih tinggi dari COVID-19. Namun, 7 kasus positif varian ini di Indonesia dinyatakan telah sembuh pada 12 Maret 2021.
Sementara varian N439K disebut sebagai mutasi yang umum, sehingga belum menjadi Variant of Consent (VOC) atau Variant of Interest (VOI) dari WHO.
ADVERTISEMENT
Amin menyatakan varian baru corona akan diperhatikan secara konsisten. Eijkman siap menggencarkan kajian whole genome sequencing (WGS) untuk melacak varian-varian baru di Indonesia.
"Setiap hari kita cermati apakah ada varian-varian itu masuk ke Indonesia atau muncul varian baru. Kecurigaan itu baru timbul jika kita mengamati bagaimana kecurigaan bisa timbul kalau tidak ada datanya," pungkasnya.