Eijkman Sulit Lacak Kasus Mutasi Corona Eek yang Tak Ada Riwayat ke Luar Negeri

7 April 2021 17:11 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio. Foto: Youtube/@DPMPTSP DKI Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio. Foto: Youtube/@DPMPTSP DKI Jakarta
ADVERTISEMENT
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof. Amin Soebandrio membenarkan bahwa mutasi corona Eek telah ditemukan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pihaknya menerima sampel kasus positif COVID-19 dari sebuah rumah sakit di Jakarta Barat pada 2 Februari lalu. Setelah dianalisis menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS), mutasi E484K ditemukan dalam sampel tersebut.
"Ya si pasien itu, kan, dirawat di RS di Jakbar, kemudian sampelnya dikirim ke Eijkman. Kami menerima sampelnya 2 Februari lalu yang setelah dites itu positif PCR-nya, lalu dilanjutkan dengan WGS. Setelah dianalisis ternyata virusnya memiliki mutasi E484K. Nah, tapi kondisi pasiennya tidak terlalu berat," kata Amin kepada kumparan, Rabu (7/4).
Amin menerangkan satu kasus tersebut kini telah sembuh dan belum ada kasus mutasi E484K lainnya. Oleh sebab itu, Eijkman cukup kesulitan untuk melakukan tracking dan tracing.
"Sudah pulang dari RS dan sudah sembuh dan belum ada kasus lain. Jadi tracing tracking-nya [kami] agak kesulitan juga untuk mengetahui sumbernya, atau mengetahui siapa yang pernah tertular, atau apa dia sempat melakukan kontak dengan orang lain," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana diketahui, kasus mutasi corona Eek yang ditemukan di Indonesia tidak memiliki riwayat perjalanan keluar negeri. Meski kontak erat belum ditelusuri secara maksimal, Amin berpendapat sangat mungkin mutasi tersebut terjadi secara lokal.
"Sejauh ini yang kita ketahui pasiennya sendiri tidak pernah ke luar negeri, tapi kita belum tahu persis siapa saja yang kontak dengan dia. Apakah ada kemungkinan kontak tidak langsung, artinya yang pergi ke luar negeri itu bukan dia tapi orang lain bisa saja, [orang lain] yang membawa virus. Tapi jika bicara tentang kemungkinan, mutasi bisa terjadi di indonesia sendiri," jelasnya lagi.
Ilustrasi COVID-19. Foto: Dado Ruvic/Reuters

Eijkman Tingkatkan Kapasitas WGS

Sementara itu, Eijkman telah meningkatkan kapasitas WGS untuk mendeteksi mutasi-mutasi baru SARS-CoV-2 yang masuk ke Indonesia, termasuk mutasi Eek atau E484K. Pihaknya menargetkan sekuens terhadap 5.000 sampel bisa terlaksana di 2021.
ADVERTISEMENT
"Sebenernya dari Desember 2020 Eijkman telah meningkatkan kapasitas untuk melakukan WGS untuk menemukan varian-varian baru. Tidak hanya E484K tapi juga varian-varian lain, termasuk varian yang mungkin [khusus] muncul di Indonesia sendiri. Eijkman menargetkan sepanjang 2021 bisa melakukan sekuens sampai 5.000-an," tutupnya.