Eks Diktator Korsel, Chun Doo-hwan, Meninggal Dunia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Presiden Korea Selatan Chun Doo-Hwan (tengah) saat ditangkap oleh otoritas penuntutan pada 3 Desember 1995. Foto: Kim Jae-Hwan/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Presiden Korea Selatan Chun Doo-Hwan (tengah) saat ditangkap oleh otoritas penuntutan pada 3 Desember 1995. Foto: Kim Jae-Hwan/AFP

Eks diktator Korea Selatan (Korsel), Chun Doo-hwan, meninggal dunia di usia 90 tahun pada Selasa (23/11) pagi. Ia berpulang di kediamannya di Ibu Kota Seoul, Korsel.

Kantor berita Yonhap melaporkan, dikutip dari Reuters, Chun mengidap penyakit multiple myeloma, yaitu kanker yang menyerang sel plasma di sumsum tulang.

Chun berpulang tak lama setelah Roh Tae-woo, eks presiden dan juga rekannya pada kudeta 1979, meninggal dunia di usia 88 tahun.

Ia adalah jenderal yang mengambil alih kekuasaan Korsel lewat kudeta pada 1979, usai pembunuhan Presiden Korsel saat itu Park Chung-hee.

Chun menjabat sebagai presiden selama delapan tahun, yakni sejak 1980 hingga 1988. Ia memerintah dengan tangan besi, melawan seluruh penentangnya dengan brutal. Namun, di saat yang bersamaan, perekonomian Korsel mengalami pertumbuhan baik.

Chun juga berhasil menjadikan Seoul, Korsel, sebagai tuan rumah dari pesta olahraga terbesar di dunia, yakni Olimpiade pada 1988.

Ilustrasi demonstrasi di Korea Selatan. Foto: Reuters/Yonhap

Hingga saat ini, Chun masih menjadi tokoh Korsel yang paling dicerca. Dikutip dari AFP, ia memiliki panggilan “Algojo Gwangju.” Sebutan itu ia peroleh akibat memerintahkan pasukannya untuk meredam aksi protes terhadap pemerintahannya di Kota Gwangju, barat daya Korsel.

Pada 1996, ia divonis melakukan pengkhianatan dan dijatuhi hukuman mati. Vonis tersebut berkaitan juga dengan tindakannya di Kota Gwangju. Tetapi, eksekusi Chun diringankan dan ia pun dibebaskan.

Total korban tewas atau hilang pada insiden Gwangju mencapai 200 orang, tetapi aktivis mengatakan jumlahnya bisa jadi tiga kali lebih tinggi. Chun dan para politikus sayap kanan Korsel memandang aksi di Gwangju sebagai “kerusuhan”.

Eks diktator ini juga membantah keterlibatan langsung dalam penekanan terhadap para pengunjuk rasa Gwangju.

Pada 1983, Chun berhasil lolos dari percobaan pembunuhan. Saat itu, ia yang masih menjabat sebagai presiden mengunjungi Myanmar. Agen-agen Korea Utara mencoba membunuhnya dengan meledakkan bom pada upacara di sebuah tugu peringatan.

Hingga kematiannya, Chun selalu terlibat dalam persidangan. Pada tahun lalu, ia divonis bersalah oleh pengadilan atas tuntutan pencemaran nama baik, yang masih berkaitan dengan kasus kekerasan Gwangju.