Eks Kepala Hakim MA, Sushila Karki, Diminta Gen Z Jadi Pemimpin Sementara Nepal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hakim di Nepal Sushila Karki. Foto: Prakash Mathema/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Hakim di Nepal Sushila Karki. Foto: Prakash Mathema/AFP

Eks kepala hakim, Sushila Karki, diminta jadi pemimpin sementara di Nepal. Kekosongan pemerintahan terjadi akibat demo berujung kerusuhan pecah di Nepal sejak pekan ini.

Nama Karki muncul dari beberapa perwakilan Gen Z. Kelompok tersebut merupakan penggerak demo yang berhasil menggulingkan kekuasaan Perdana Menteri KP Sharma Oli.

Pada Rabu (10/9), saat kondisi mulai tenang, Panglima Angkatan Darat Nepal Jenderal Ashok Raj Sigdel menggelar perundingan dengan sejumlah sosok kunci dan perwakilan Gen Z.

GTentara Nepal memeriksa seorang komuter selama jam malam usai demo ricuh di Kathmandu, Nepal, Rabu (10/9/2025). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Salah seorang perwakilan Gen Z yang ikut pertemuan, Rakshya Bam, mengatakan nama Karki diusulkan menjadi kepala pemerintahan pada perundingan tersebut.

“Sekarang, nama Sushila Karki muncul untuk memimpin pemerintahan sementara, kini kami menunggu Presiden bergerak,” kata Bam seperti dikutip dari AFP.

“Dengan Panglima Angkatan Darat kami berdiskusi soal masa depan. Pembicaraan terkait bagaimana kami bergerak maju, dan menjaga perdamaian dan keamanan negara,” sambung dia.

Demonstran memegang bendera Nepal saat asap mengepul di kompleks Parlemen, Kathmandu, Nepal, Selasa (9/9/2025). Foto: Adnan Abidi/REUTERS

Adapu Karki (73), adalah seorang akademisi dan perempuan pertama yang memimpin Mahkamah Agung Nepal. Ia belum menjawab soal dukungan menjadi kepala pemerintahan sementara.

“Para pakar harus berkumpul demi mencari jalan ke depan,” kata Karki.

Secara konstitusi untuk menentukan pemerintahan, Presiden Ramachandra Paudel harus mengumpulkan para pemimpin partai terbesar di Nepal. Pertemuan bertujuan untuk membahas pembentukan pemerintahan baru.

Namun, saat ini sejumlah politikus dari partai-partai besar di Nepal keberadaannya masih samar.