Eks KSAU Agus Supriatna Mangkir Sebagai Saksi Sidang Korupsi Heli AW-101

23 November 2022 12:16
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Mantan ksau Agus Supriatna di KPK Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan ksau Agus Supriatna di KPK Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
ADVERTISEMENT
Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal (Purn) Agus Supriatna mangkir dari panggilan sebagai saksi di sidang perkara dugaan korupsi pembelian helikopter Agusta Westland berkode AW 101. Agus dipanggil sebagai saksi untuk terdakwa Irfan Kurnia Saleh alias John Irfan Kenway.
ADVERTISEMENT
Agus dipanggil sebagai saksi di persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada 21 November 2022. Namun dia tak memenuhi panggilan itu.
Plt juru bicara KPK, Ali Fikri, mengatakan tim Jaksa Penuntut Umum (TPU) KPK telah mengirimkan surat panggilan ke kediaman Agus Supriatna di wilayah Cibubur. Bahkan, KPK juga telah meminta bantuan pihak TNI AU untuk melakukan pemanggilan.
"Namun saksi ini tidak hadir tanpa keterangan dan untuk itu Tim Jaksa KPK akan kembali memanggil saksi ini melalui alamat di Trikora Raya Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur," terang Ali.
Untuk panggilan kedua, KPK kembali meminta bantuan melalui pihak TNI AU. Agus diminta untuk hadir sebagai saksi pada sidang lanjutan yang bakal digelar di PN Tipikor Jakarta Pusat pada Senin (28/11).
ADVERTISEMENT
"Kami mengingatkan baik saksi ataupun kuasa hukumnya untuk kooperatif hadir memenuhi panggilan pengadilan karena hal itu merupakan kewajiban hukum saksi," pungkas Ali.
Pelaksana Harian (Plh) Juru Bicara KPK yang baru Ali Fikri menyampaikan konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
zoom-in-whitePerbesar
Pelaksana Harian (Plh) Juru Bicara KPK yang baru Ali Fikri menyampaikan konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Belum ada pernyataan dari TNI AU maupun Agus Supriatna mengenai ketidakhadiran dalam persidangan tersebut.
Sejak dalam tahap penyidikan, Agus memang juga beberapa kali dipanggil KPK sebagai saksi. Namun dua panggilan yang saat itu dilayangkan juga tak ada yang dipenuhi.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Pemeriksaan Helikopter AW 101. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemeriksaan Helikopter AW 101. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Eks KSAU ini memang disebut berkaitan dengan perkara siap ini. Dalam dakwaan Irfan selaku Direktur PT Diratama Jaya Mandiri sekaligus pengendali PT Karsa Cipta Gemilang, disebutkan bahwa Agus menerima keuntungan hingga miliaran rupiah.
"Memperkaya orang lain yakni Agus Supriatna sebesar Rp 17.733.600.000," demikian bunyi dakwaan yang dibacakan oleh jaksa KPK di PN Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (12/10).
Mantan KASAU, Agus Supriatna di Gedung KPK Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan KASAU, Agus Supriatna di Gedung KPK Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Jumlah uang itu seharusnya menjadi bagian dari yang dibayarkan untuk pembelian Heli AW-101. Namun justru diberikan kepada Agus sebagai uang 'dana komando'.
ADVERTISEMENT
Dalam kasus ini, Irfan Kurnia Saleh alias John Irfan Kenway selaku Direktur PT Diratama Jaya Mandiri sekaligus pengendali PT Karsa Cipta Gemilang didakwa merugikan keuangan negara hingga ratusan miliar rupiah terkait korupsi pengadaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017.
"Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara yaitu merugikan keuangan negara sebesar Rp 738.900.000.000 atau setidak-tidaknya sejumlah tersebut," kata jaksa KPK saat membacakan dakwaan.
Terdakwa kasus korupsi pengadaan helikopter AW-101, Irfan Kurnia Saleh alias Jhon Irfan Kenway menjalani sidang lanjutan di Jakarta, Senin (31/10/2022). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
zoom-in-whitePerbesar
Terdakwa kasus korupsi pengadaan helikopter AW-101, Irfan Kurnia Saleh alias Jhon Irfan Kenway menjalani sidang lanjutan di Jakarta, Senin (31/10/2022). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jumlah kerugian negara itu berdasarkan Laporan Hasil Penghitungan Kerugian Keuangan Negara atas Pengadaan Helikopter Angkut AW-101 di TNI Angkatan Udara Tahun 2016 yang dilakukan oleh ahli dari Unit Forensik Akuntansi Direktorat Deteksi dan Analisis Korupsi Pada KPK. Laporan hasil audit forensik tersebut tertanggal 31 Agustus 2022.
Dalam dakwaan tersebut, Irfan didakwa melakukan korupsi bersama-sama dengan:
ADVERTISEMENT
  • Lorenzo Pariani selaku Head of Region Southeast
  • Asia Leonardo Helicopter Division AgustaWestland Products;
  • Bennyanto Sutjiadji selaku Direktur Lejardo, Pte. Ltd;
  • Agus Supriatna selaku Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) periode Januari 2015 sampai Januari 2017;
  • Heribertus Hendi Haryoko selaku Kepala Dinas Pengadaan Angkatan Udara (KADISADA AU) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) periode tahun 2015 sampai dengan tanggal 20 Juni 2016;
  • Fachri Adamy selaku Kepala Dinas Pengadaan Angkatan Udara (KADISADA AU) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) periode tanggal 20 Juni 2016 sampai 2 Februari 2017;
  • Supriyanto Basuki selaku Asisten Perencanaan dan Anggaran (ASRENA) KSAU TNI AU periode tahun 2015 sampai dengan Februari 2017; dan
  • Wisnu Wicaksono selaku Kepala Pemegang Kas (PEKAS) Mabes TNI AU periode tahun 2015 sampai Februari 2017.
ADVERTISEMENT
Sejauh ini, KPK baru menjerat satu orang yakni Irfan Kurnia Saleh alias John Irfan Kenway.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020