Empat Kali Diperiksa, Motif Pelaku Pembunuhan di Lamjabat, Aceh, Belum Diketahui

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers terkait Pembunuhan di Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers terkait Pembunuhan di Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Kasus penganiayaan empat orang warga di Desa Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh hingga menewaskan 1 orang, belum ada titik terang. Sebab, polisi menyebut, pelaku memberikan keterangan yang berbeda. Hal ini menyulitkan proses pendalaman motif pelaku.

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, AKP M Ryan Citra Yudha mengatakan, pelaku sudah diperiksa empat kali untuk mengetahui motif pelaku.

"Pelaku sendiri, sampai dengan saat ini sudah empat kali ikut pemeriksaan. Keterangannya berubah-ubah, sehingga polisi belum bisa mengambil kesimpulan,” ujar Ryan kepada wartawan, Senin (8/3).

Dalam kasus ini, sebanyak empat orang menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh PP (21). Mereka adalah AJS (33), dan seorang ibu bersama dua anaknya yaitu RL (35) ZNF (14), dan AI (12). Dari empat korban tersebut, RL meninggal dunia.

Ryan menambahkan mengatakan pelaku membacok para korban menggunakan pisau sangkur pramuka miliknya pada Jumat (5/3). Akibat peristiwa ini, AJS mengalami luka memar di bagian pipi kanan tetapi bukan karena penusukan

Konferensi pers terkait Pembunuhan di Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

“ZNF luka tusuk di punggung belakang, juga ada luka tusuk di belakang telinga. Begitu juga dengan AI, luka tusuk di punggung belakang," tambahnya.

Sementara itu, korban meninggal dunia RL terdapat 4 luka tusuk di punggung belakang.

Polisi menyebut telah memeriksa sebanyak empat saksi untuk mendalami kasus ini. Yakni, tetangga korban dan ayah pelaku, FTY (35) dan MHH (46), kepala dusun SA (52), dan ayah pelaku AWL (60).

“Berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi, pelaku dan korban ini sama sekali tidak ada permasalahan. Bahkan, mereka punya ikatan persaudaraan,” ungkapnya.

Meski begitu, sebut Ryan, menurut pengakuan para saksi termasuk ayah pelaku, PP mengalami perubahan perilaku dalam seminggu sebelum terjadinya peristiwa tersebut.

“Hari ini rencananya kita akan berkoordinasi dengan psikiater untuk dilakukan pemeriksaan kondisi kejiwaannya. Kita tunggu hasilnya seperti apa, nanti akan kita sampaikan kembali perkembangannya,” ungkap Ryan.

Peristiwa penganiayaan oleh PP

Peristiwa ini bermula saat pelaku pergi ke sebuah kedai kopi dengan ayahnya pada Jumat (5/3) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, pelaku meminta sejumlah batang rokok. Karena sudah habis, pelaku pergi ke warung dengan sepeda motor.

Dalam perjalanan tersebut, pelaku bertemu dengan saksi korban AJS. Tiba-tiba pelaku memukul korban. “Tidak ada sebab-akibat, tiba-tiba langsung memukul saudari AJS ini,” ujar Ryan.

Aksi tersebut sempat dilerai oleh warga. Kemudian, pelaku mengajak ayahnya untuk meninggalkan tempat minum kopi. Alasannya, ayahnya tidak aman di lokasi tersebut.

Sesampai di rumah, ayah pelaku sempat bertanya soal ajakan tersebut. Akan tetapi, pelaku tidak memberikan jawaban. Pelaku hanya meminta ayahnya untuk duduk di ruang tamu, tidak boleh pergi.

Ilustrasi Penganiayaan Foto: Pixabay

Saat ayah pelaku tengah menyiapkan air untuk keperluan salat, kepala dusun datang untuk meminta keterangan soal pemukulan pelaku ke AJS. “Bapaknya melihat wajah AJS sudah memar, kemudian bapaknya juga pergi membeli obat,” tuturnya.

Ketika ayah pelaku membeli obat, pelaku yang sebelumnya dikurung di dalam kamar berhasil keluar. Pelaku tiba-tiba menikam ke sejumlah warga. Pelaku masuk ke rumah RL di mana pada saat itu kedua anaknya, IA dan ZNF sedang bermain.

“Saat ZNF lari ke belakang rumah, di sana ada IA dan dia pun juga ikut terkena penusukan. Setelah menusuk AI, terjadi juga penusukan terhadap RL yang meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit,” pungkas Ryan.

embed from external kumparan