News
·
17 Juni 2021 18:02
·
waktu baca 2 menit

Epidemiolog: Jika Tak Ada Pengetatan, 1-2 Minggu Lagi Faskes Kolaps

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Epidemiolog: Jika Tak Ada Pengetatan, 1-2 Minggu Lagi Faskes Kolaps (226317)
searchPerbesar
Antrean pasien Corona di RSDC Wisma Atlet, Senin (14/6/2021). Foto: Dok. Istimewa
Keterisian tempat tidur (BOR) di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah saat ini semakin hari kian penuh oleh pasien COVID-19. Jika lonjakan kasus tidak bisa dikendalikan, maka dapat dipastikan bahwa rumah sakit tidak akan lagi sanggup merawat pasien.
ADVERTISEMENT
Beberapa fasilitas bahkan telah terisi hingga lebih dari separuhnya. Contohnya saja di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran yang per Kamis (17/6) ini telah terisi hingga 77,5 persen. Sementara, angka kasus di Jakarta terus meroket.
"Jika tidak ada containment, pengendalian yang ketat, saya bisa katakan 2 minggu sampai 1 bulan lagi (Faskes) kita akan kolaps. Karena itu strategi mengatasi masalah ini tidak bisa hanya dengan menambah tempat tidur," ujar Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Dr Masdalina Pane, dalam diskusi virtual, Kamis (17/6).
Epidemiolog: Jika Tak Ada Pengetatan, 1-2 Minggu Lagi Faskes Kolaps (226318)
searchPerbesar
Sejumlah tenaga kesehatan berjalan di selasar RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (15/6/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
Ia juga menilai, penambahan kapasitas tempat tidur di berbagai rumah sakit bukanlah solusi satu-satunya. Masyarakat harus dapat mencegah penularan COVID-19 yang lebih luas.
"Karena ada satu titik di mana akan terjadi kapasitas lonjakan. Di mana rumah sakit dan tempat tidur sudah tidak bisa lagi mengatasinya. Makanya yang harus dilakukan adalah containment di hulu. Jadi bagaimana caranya agar masyarakat itu bisa tetap mematuhi protokol kesehatan tapi tracingnya tetap kuat," tambah Masdalina.
Epidemiolog: Jika Tak Ada Pengetatan, 1-2 Minggu Lagi Faskes Kolaps (226319)
searchPerbesar
IGD RSUD Kartini Jepara. Foto: Dok. Istimewa
Kondisi lonjakan ini sebenarnya sudah dapat dipelajari dari beberapa momen libur panjang sebelumnya. Bahkan pernah ada libur panjang yang tidak diikuti dengan kenaikan kasus. Maka dari itu, masyarakat sudah seharusnya mengurangi mobilisasi agar pola yang sama ini tidak terjadi lagi.
ADVERTISEMENT
"Karena kita juga pernah mengalami libur panjang yang kasusnya tidak naik. Artinya model-model seperti itu yang harus kita lakukan, tentu peran serta masyarakat jadi faktor penting. Jadi pada saat ini pembatasan mobilitas bisa jadi solusi, tapi itu tidak bisa lama," tutup Masdalina.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020