Epidemiolog soal Roadmap Hidup Bersama Corona: Banyak Negara Maju Belum Siap

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga yang menggunakan masker melintasi mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga yang menggunakan masker melintasi mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Presiden Jokowi telah meminta sejumlah lembaga maupun kementerian untuk membuat roadmap kebijakan soal hidup berdampingan dengan COVID-19.

Terkait hal ini, Epidemiolog UGM, Prof. Hari Kusnanto menilai, pada kenyataannya saat ini masih banyak negara maju yang belum dapat menanggulangi pandemi ini. Apalagi bisa hidup berdampingan dengan corona.

Ia mencontohkan negara seperti Amerika Serikat yang kini kasus positif corona kembali melonjak. Begitu juga dengan Singapura yang merencanakan penetapan COVID-19 sebagai endemi, masih mencatatkan penambahan kasus baru.

kumparan post embed

"Banyak negara maju saja belum siap. Amerika Serikat mencapai laporan kasus 125.000 per hari. Singapura penduduknya tidak banyak, masih juga bisa kecolongan walaupun tidak sampai 100 kasus per hari," katanya kepada kumparan, Rabu (11/8).

Menurut dia, hal terpenting yang bisa dilakukan saat ini untuk mengendalikan pandemi adalah dengan terus menggencarkan penerapan protokol kesehatan. Selain itu, mengupayakan perluasan cakupan vaksinasi.

Polisi memberikan kartu vaksinasi COVID-19 kepada warga yang sudah divaksin di Komando Daerah Militer V/Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur, Senin (9/8/2021). Foto: Didik Suhartono/ANTARA FOTO

"Kuncinya kalau masyarakat dapat menghentikan laju penularan, khususnya memakai masker dan vaksinasi, aktivitas ekonomi bisa berangsur pulih," tambah Prof. Hari.

Untuk itu, ia meminta pemerintah agar bisa memberikan alat penunjang protokol kesehatan seperti masker secara gratis. Utamanya, diberikan di tempat yang ramai aktivitas masyarakat seperti di pasar. Ini akan mempercepat penurunan laju penularan corona.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan jumlah vaksinator yang harus sebanding dengan jumlah orang yang akan divaksinasi. Hal ini akan sangat membantu percepatan vaksinasi dan di sisi lain juga terus mengupayakan ketersediaan vaksin yang adil dan merata.

"Harga masker sudah cukup rendah, pemerintah bisa diminta untuk memberikan subsidi masker gratis untuk mereka yang bekerja di pasar tradisional," tambahnya.

"Vaksinasi harus dipercepat dengan menambah vaksinator dan mempercepat pasokan vaksin," tutup Prof. Hari.