Eropa Rentan Imbas Konflik di Ukraina, UE Tingkatkan Kerja Sama dengan ASEAN

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bendera Uni Eropa. Foto: REUTERS/Yves Herman
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Uni Eropa. Foto: REUTERS/Yves Herman

Uni Eropa mengaku ingin meningkatkan hubungan yang lebih dekat dengan negara-negara anggota ASEAN.

Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina serta persaingan ketat dengan China di negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Hal ini disampaikan oleh delegasi Prancis dalam pertemuan puncak KTT ASEAN-Uni Eropa yang diselenggarakan di Kota Brussels, Belgia, pada Rabu (14/12).

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo yang telah berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta sehari sebelumnya.

Presiden Jokowi bertolak ke Belgia hadiri KTT asean-uni eropa. Foto: Dok. Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

Penyelenggaraan KTT ASEAN-Uni Eropa di tahun ini sekaligus memperingati 45 tahun terjalinnya hubungan kerja sama antara kedua blok ekonomi tersebut.

Pada kesempatan itu, Uni Eropa ingin menempatkan dirinya sebagai mitra yang dapat diandalkan untuk pertumbuhan ekonomi ASEAN tercepat di dunia — di tengah meningkatnya persaingan antara China dan Amerika Serikat.

“Ada kebutuhan bagi Eropa untuk berhubungan kembali dengan ASEAN, salah satu wilayah paling dinamis di dunia,” kata kepresidenan Prancis, seperti dikutip dari AFP.

Faktor lain yang mendorong keinginan Uni Eropa untuk meningkatkan perdagangan dengan ASEAN salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi di kawasan ini yang tetap melejit meski diadang pandemi selama tiga tahun terakhir.

Tantangan bagi Uni Eropa

Meski begitu, Uni Eropa dihadapkan pada kondisi internal ASEAN yang terpecah — dipicu oleh tanggapan ke-10 negara anggota terhadap operasi militer khusus Rusia di Ukraina. Di satu sisi, Singapura telah menjadi mengikuti Barat untuk menjatuhkan sanksi kepada Moskow.

Namun, sebagian besar anggota ASEAN lainnya — seperti Indonesia, Vietnam, Laos, dan Thailand memilih untuk tetap netral dan abstain dari pemungutan suara PBB pada Oktober lalu yang mengecam aneksasi empat provinsi Ukraina oleh Rusia.

Sebelumnya, pada Februari lalu para menteri luar negeri ASEAN mengeluarkan pernyataan resmi terkait pandangan mereka atas konflik di Ukraina.

Suasana Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN - Korea Selatan dalam rangkaian KTT ASEAN 2022 di Hotel Sokha, Phnom Penh, Kamboja, Jumat (11/11/2022). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Perwakilan ke-10 negara anggota menyatakan keprihatinannya terhadap situasi tersebut, tetapi tetap menghindari kritik secara langsung kepada Rusia dan memilih untuk tidak mempertaruhkan hubungan mereka.

Pernyataan resmi ASEAN itu juga tidak menyebut aktivitas militer Rusia sebagai ‘invasi’ atau ‘agresi’ terhadap Ukraina.

Dan pandangan Uni Eropa yang berbeda dengan ASEAN dalam menyikapi konflik di Ukraina telah memicu perdebatan pada perundingan deklarasi akhir dari KTT tersebut.

Hal ini dikarenakan Uni Eropa mendorong penggunaan istilah yang lebih kuat untuk mengutuk agresi Rusia.

Pada akhirnya, seorang pejabat Uni Eropa mengatakan pihaknya sepakat mengisyaratkan pesan yang sangat jelas kepada negara anggota ASEAN terkait pentingnya menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Ukraina.

Pengaruh Luas China di Asia Tenggara

Tantangan Uni Eropa untuk mewujudkan keinginannya tak hanya berhenti di situ. Sementara Eropa menekan ASEAN untuk memberikan respons yang lebih tegas terhadap Rusia, ada negara raksasa lain yang memiliki pengaruh kuat di kawasan tersebut — yaitu China.

Klaim Beijing atas Laut China Selatan telah menjadikan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini bertentangan dengan beberapa negara tetangganya.

China mengeklaim kedaulatannya atas hampir seluruh perairan Laut China Selatan — sementara di saat bersamaan Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam memiliki klaim yang tumpang tindih atas sebagian wilayah dari laut tersebut.

Presiden Joko Widodo terima keketuaan Asean 2023 dari Kamboja. Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden

Situasi ini pun memicu kekhawatiran di Eropa, sebab jalur dagang perdagangan global utama terletak di Laut China Selatan. Terlepas dari sengketa itu, China tetap menjadi mitra dagang terbesar bagi ASEAN dan banyak negara di kawasan ini memilih untuk tidak mengambil risiko.

Uni Eropa dan ASEAN telah menjadi mitra dagang ketiga terbesar di dunia dan Eropa melihat kawasan Asia Tenggara sebagai sumber utama untuk bahan baku. Oleh karenanya, negara di Benua Biru ingin meningkatkan akses dalam pasar global ASEAN yang sedang berkembang pesat.

Dan terkait upaya untuk meningkatkan hubungan dengan ASEAN, Uni Eropa mengungkap akan memberikan investasi hingga senilai EUR 10 miliar (Rp 166 triliun) untuk kawasan itu di bawah strategi Global Gateway, sebagai penyeimbang atas pengaruh China.

Indonesia hadir dalam China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-19 di Nanning, China. Foto: KBRI Beijing

Pihaknya ingin mendiversifikasi rantai pasokan utama dari China, sebab konflik di Ukraina telah membuat posisi Eropa lebih rentan.

Selama ini, dorongan untuk mewujudkan kesepakatan antara ASEAN dan Uni Eropa telah ditunda lebih dari satu dekade lamanya. Sebelum konflik di Ukraina terjadi, kebijakan Brussels lebih condong pada kesepakatan bilateral dengan masing-masing anggota ASEAN.

Kesepakatan Uni Eropa dengan Vietnam sudah terjalin, namun blok itu ingin meningkatkan kerja sama dengan Indonesia selaku pemilik perekonomian terbesar di ASEAN serta melanjutkan pembicaraannya dengan anggota lain seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand.