Eropa Utara dan Selatan, Sama-sama Eropa Tapi Tidak Sama

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di Malta. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Malta. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)

Jika dibandingkan dengan Asia, Afrika, dan Amerika, benua Eropa tidaklah memiliki dataran yang luas. Meskipun begitu, benua ini memiliki negara terbanyak kedua setelah Afrika.

Lima puluh negara yang membentuk Eropa menjadikan benua biru tersebut kaya akan budaya dan keberagaman. Dalam jarak beberapa kilometer saja, warganya sudah berbicara bahasa yang berbeda dan menyantap makanan yang berbeda.

Perbedaan yang sering kali tampak adalah perbedaan antara masyarakat Eropa utara dan Eropa selatan. Perbedaan iklim menjadi salah satu dasar mengapa kebiasaan masyarakat dapat menjadi berbeda.

Di daerah Jerman, Belanda, Prancis bagian utara, Inggris, Belgia, dan negara Skandinavia pada umumnya memiliki musim dingin yang lebih panjang. Sementara negara Italia, Prancis selatan, Spanyol, Portugal, dan Yunani memiliki matahari yang bersinar lebih panjang daripada Eropa utara.

Berikut adalah perbedaan-perbedaan antara masyarakat Eropa utara dan selatan yang pada umumnya dipercaya oleh orang-orang. Sebagian dari perbedaan tersebut mungkin hanya stereotip saja.

1. Makanan Eropa selatan lebih beragam daripada Eropa utara.

Boulangerie di Nancy, Prancis. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Boulangerie di Nancy, Prancis. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)

Orang-orang bagian selatan seperti Italia sangat mengagungkan makanannya. Mereka memiliki makanan yang beragam dan lebih berani menggunakan bumbu. Sebut saja pizza, spageti, tiramisu, dan gelato adalah kuliner Italia yang populer di seluruh dunia. Budaya makanan yang kaya ini disebabkan karena iklim yang cocok untuk menanam lebih banyak ragam makanan dan bumbu di Eropa bagian selatan dan di sekitar laut Mediterania.

Sementara di Eropa bagian utara, makanan tidak semenarik di selatan. Iklim yang dingin menyebabkan tumbuhan yang bisa ditanam terbatas. Mereka tidak memiliki bumbu-bumbu eksotis sehingga mempengaruhi rasa makanan mereka yang lebih tawar dibandingkan di selatan. Tentu saja sekarang bumbu-bumbu tersebut dapat diimpor. Namun makanan adalah budaya yang sudah berakar selama ratusan tahun.

Kentang adalah makanan yang sangat populer di negara utara, seperti di Belanda dan Belgia. Bahkan di negara Skandinavia mereka banyak memakan organ-organ domba dan lemak untuk membuat tubuh mereka tetap hangat.

2. Eropa utara lebih kaya dibandingkan Eropa selatan.

Negara-negara di Eropa utara seperti Denmark, Jerman, Inggris, Luxembourg, dan Belanda adalah negara-negara yang pada umumnya lebih kaya. Hal tersebut dapat dilihat dari pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita negara tersebut yang lebih tinggi daripada negara-negara selatan.

Sementara negara-negara selatan memiliki kondisi perekonomian yang lebih miskin dibandingkan negara utara. Bahkan Spanyol, Italia, Yunani, dan Portugis sampai harus menderita dalam krisis ekonomi.

Hal tersebut tentu mempengaruhi biaya hidup di masing-masing negara. Hidup di selatan lebih murah jika dibandingkan dengan utara. Lalu apa yang menyebabkan perbedaan ekonomi tersebut?

Sumber pendapatan adalah salah satu jawabannya. Negara Utara seperti Jerman sangat bergantung pada sektor industri yang lebih banyak memberi pemasukkan daripada sektor wisata yang merupakan sumber penghasilan utama masyarakat Eropa selatan. Perusahaan-perusahaan di Jerman contohnya Volkswagen, BMW, dan Mercedes Benz.

Gelato Italia. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gelato Italia. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)

3. Masyarakat Eropa utara lebih efisien dan masyarakat Eropa selatan lebih santai.

Coba perhatikan gaya hidup dan gaya bekerja para masyarakat Eropa ini. Pasti akan terlihat bedanya. Masyarakat Eropa utara lebih efisien dalam bekerja. Mereka sangat cepat dan produktif sehingga banyak mendapatkan keuntungan. Hal tersebut juga menjelaskan mengapa negara-negara mereka lebih kaya dibandingkan dengan negara selatan.

Sementara itu, orang-orang di negara selatan terkenal sebagai orang-orang yang lebih bahagia. Mereka lebih santai dan citra yang melekat adalah orang-orang yang sangat menikmati hidup.

Mereka banyak melakukan pesta dan memiliki budaya siesta, yaitu istirahat siang yang lama untuk makan dan tidur siang. Pergilah ke Italia pada musim panas. Di siang hari banyak toko-toko tutup karena penjaganya sedang tidur siang.

4. Protestan dan Katolik.

Agama juga tidak terdistribusi dengan rata di Eropa. Protestan dan Katolik memanglah dua agama yang paling banyak dianut di Eropa. Namun, batasan virtual kedua agama tersebut dapat dilihat. Daerah Eropa bagian selatan lebih banyak yang beragama Katolik. Tidak heran karena pusat agama Katolik sendiri terletak di Vatikan.

Sementara Eropa utara lebih banyak menganut Protestan. Tokoh-tokoh reformasi agama Kristen juga berasal dari negara-negara di Utara. Sebut saja Martin Luther dari Jerman dan Henry VIII di Inggris. Mereka adalah tokoh-tokoh penggerak Protestanisme.

Gereja Sacré-Cœur di Paris. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gereja Sacré-Cœur di Paris. (Foto: Daniel Chrisendo/kumparan)

5. Bir atau Wine?

Dalam urusan minuman beralkohol, Eropa utara dan selatan juga berbeda. Belgia dan Jerman di utara terkenal dengan produk-produk bir mereka yang populer di seluruh dunia. Belgia memiliki lebih dari seribu jenis bir, sementara Jerman memiliki festival minum bir terbesar di dunia yang disebut Oktoberfest.

Namun, yang terlihat di selatan agak sedikit berbeda. Untuk urusan minuman beralkohol, negara-negara seperti Prancis, Italia, dan Spanyol memiliki cita rasa yang lebih classy dan konservatif. Mereka meminum wine yang terbuat dari anggur. Contoh wine yang terkenal adalah wine Chianti dari Italia dan wine Sauvignon Blanc dari Prancis.

6. Bahasa Latin dan Germanic.

Bahasa di Eropa sangat beragam. Ada bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, Belanda, Denmark, dan lain sebagainya. Seolah-seolah setiap negara memiliki bahasanya masing-masing. Namun jika kita telusuri sampai ke akarnya, bahasa-bahasa tersebut memiliki sumber yang sama.

Bahasa selatan seperti Bahasa Prancis, Spanyol, Italia, dan Portugis bersumber dari Bahasa Latin. Sementara bahasa di utara seperti Inggris, Jerman, Belanda, dan Denmark berasal dari satu rumpun yang sama, yaitu bahasa Germanic