Erwin Aksa dan Erick Thohir, Dua Sahabat Sejati Sandi yang Beda Sikap

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
(kiri ke kanan) Erwin Aksa, Sandiaga Uno, Erick Thohir. Foto: Dok. Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
(kiri ke kanan) Erwin Aksa, Sandiaga Uno, Erick Thohir. Foto: Dok. Kumparan

Pilpres kadang menghadapkan seseorang pada dua pilihan sulit: persahabatan atau politik. Kondisi ini terjadi pada dua sahabat sejati calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno, yaitu Erick Thohir dan Erwin Aksa.

Ketiganya sebetulnya masyhur sebagai pengusaha ketimbang politisi. Bisnisnya pun tak main-main. Erwin Aksa adalah Komisaris Utama Bosowa Group yang menggarap bisnis otomotif, semen, pertambangan, energi, jasa keuangan, properti, serta pendidikan. Sandiaga Uno, membangun perusahaan dalam bidang keuangan dan investasi hingga menempatkan namanya sebagai pendatang baru dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes tahun 2009.

Kemudian Erick Thohir adalah pendiri Mahaka Group yang fokus pada bisnis media dan entertainment. Erick juga pemilik F.C. Internazionale Milano (Inter Milano) dan D.C. United, juga pernah jadi pemilik klub bola basket NBA Philadelphia 76ers.

Erwin Aksa dan Sandi lebih dulu terjun ke politik, masing-masing masuk di Partai Golkar dan Partai Gerindra. Sementara Erick Thohir untuk pertama kalinya terjun ke politik langsung didaulat sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Ketiganya sudah bersahabat lama jauh sebelum berpolitik. Namun, Pilpres 2019 menempatkan mereka pada pilihan yang berbeda, saat Sandi memutuskan diri menjadi calon wakil presiden. Erick Thohir 'terpaksa' mengambil posisi melawan Sandi dengan memimpin tim kampanye Jokowi-JK, sementara Erwin memilih berdampingan dengan Sandi.

Erick Thohir

Persahabatan Sandiaga Uno (kedua dari kiri) dan Erick Thohir (kiri). Foto: Instagram/@sandiuno

Meski kini berseberangan, Erick Thohir dan Sandiaga Uno punya sejarah pesahabatan sangat lama, yaitu sejak mereka duduk di Sekolah Dasar (SD), lalu SMP, SMA, dan kuliah bersama-sama di Amerika Serikat meski beda kampus. Persahabatan itu berlanjut saat mereka sama-sama jadi pebisnis.

"Saya temenan dengan dia (Erick Thohir) dari SD. Kami main basket bareng, sampai SMA. Waktu kuliah di Amerika juga saling berkunjung. Jadi sudah lama sekali, sampai sekarang saya sahabatan. Termasuk istri dan anak saya," kata Sandi usai berdialog dengan pengusaha muda bali di Puri Dalem Sanur, Denpasar, Sabtu (8/9/2018).

Saat masa pendaftaran pilpres, Sandi sempat meyakini Erick Thohir tak mungkin mau menjadi ketua timses Jokowi-Ma'ruf karena itu berarti akan menghambat harapannya menjadi wapres. Tak hanya itu, Sandi juga mengkhawatirkan pesahabatanya dengan Erick terganggu.

Sandi dan Ketua INASGOC Erick Thohir di Monas Foto: Mirsan Simamora/ Kumparan

"Secara jujur ya khawatir, ini pertemanan, secara rill pasti kita khawatir bahwa anak-anak kita, terutama istri, saya pasti khawatir," kata Sandi di Posko Melawai, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018).

Tapi dugaan Sandi melesat, Erick luluh karena diminta langsung Jokowi, yang terkesan pada kesuksesan Erick memimpin gelaran Asian Games 2018. "Saya yakin, kalau boleh milih pasti dia enggak bakal mau, karena dia lebih mudah mengurus usahanya," ucap Sandi waktu itu.

Pertemuan emosional pun terjadi saat Erick bertemu Sandi tak sengaja di acara akad nikah putra kedua Ketua DPR, Bambang Soesatyo, pada Sabtu (8/9/2018). Erick seperti meminta maaf karena pilihannya menjadi ketua timses Jokowi-Ma'ruf, pun Sandi seperti ingin bicara dia memaklumi.

Erick Thohir dan Sandiaga Uno berpelukan. Foto: Dok. Istimewa

Kini, Sandi sedang berjuang keras untuk memenangi Pilpres 2019, namun Erick Thohir dengan posisinya memaksa dia harus berjuang agar Sandi gagal memenangi Pilpres. Dilema, tentu. Tapi begitulah, dan keduanya tak ingin sikap politik dianggap merusak persahabatan.

"Persahabatan jangan dilihat hari ini, tapi masa lalu dan masa depan," kata Erick di posko pemenangan Jokowi-Ma'ruf, Menteng, Jakpus, Jumat (7/9/2018).

Erwin Aksa

Erwin Aksa di Debat Ketiga Calon Wakil Presiden (Cawapres) Pemilu 2019 di Hotel Sultan, Minggu, (17/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Berbeda dengan Erick Thohir, sahabat Sandi yang juga pengusaha, Erwin Aksa, memilih sikap berbeda. Dia justru mendukung Sandi yang maju dengan Prabowo di Pilpres 2019. Keponakan Jusuf Kalla itu menuai sorotan saat duduk di barisan pendukung Prabowo-Sandi dalam debat cawapres, Minggu (17/3). Erwin hadir memberi support pada Sandi yang malam itu sedang berdebat dengan Ma'ruf Amin.

Erwin Aksa menyadari dia mengambil risiko bertentangan dengan keputusan partainya, Golkar, yang ada di koalisi Jokowi-Ma'ruf. Bahkan dia berseberangan dengan sikap ayahnya sendiri --Aksa Mahmud-- yang juga mendukung Jokowi-Ma'ruf. Termasuk bertentangan dengan posisi pamannya, Jusuf Kalla.

Erwin Aksa di Debat Ketiga Calon Wakil Presiden (Cawapres) Pemilu 2019 di Hotel Sultan, Minggu, (17/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Tapi jawaban Erwin lugas: Sandi sahabat sejati saya.

"Saya dan Sandiaga Uno merupakan sahabat sejati, mantan Ketua Umum HIPMI dan aktif di KADIN. Kami punya ikatan emosional yang tidak bisa kami hilangkan dan kami lupakan. Kami memiliki hubungan persahabatan yang hakiki," ucap Erwin dalam rilisnya, Selasa (19/3/2019).

Sandi menjabat Ketua Umum HIPMI periode 2005-2008, kemudian dilanjutkan Erwin Aksa periode 2008-2011. Erwin mengatakan Sandi-lah yang saat itu membantunya menjabat Ketua Umum HIPMI.

"Bagi saya, persahabatan lebih penting dari segalanya. Jangan sampai persahabatan terputus karena pilihan politik yang berbeda. Nilai-nilai persahabatan harus terus dipupuk karena nilai-nilai persahabatan adalah modal sosial yang sangat penting bagi pembangunan Indonesia."

-Erwin Aksa

Lantaran sikapnya itu, Erwin rela nonaktif dari Partai Golkar dalam jabatannya sebagai Ketua DPP Golkar Bidang Koperasi, Wirausaha dan UKM.

"Demi persahabatan saya dengan Sandiaga Uno, akhirnya saya mohon maaf kepada seluruh kolega dan kader Partai Golkar di seluruh Indonesia, dan dengan ini saya menyatakan nonaktif dari kepengurusan Partai Golkar sampai proses pencapresan selesai," tutup Erwin.