Esai Foto: Gemuruh Bedug dan Dondang di Pundak Generasi Baru
·waktu baca 2 menit


Di tengah laju kota Bekasi yang terus berkembang, sekelompok warga berkumpul di Stadion Mini Natrom Nursyamsu, Mustika Jaya dalam sebuah perayaan gegap gempita namun penuh makna.
Ratusan orang dari empat kelurahan seperti Mustikajaya, Mustikasari, Padurenan, dan Cimuning, datang membawa semangat kebersamaan. Mereka mengenakan atribut khas budaya Bekasi, bersilaturahmi, dan memperlihatkan kekayaan tradisi yang masih dijaga hingga kini.
Festival ini memperlihatkan dua elemen penting dalam budaya Betawi Bekasi: bedug dan dondang. Bedug, dengan suara khasnya yang bergema, mengiringi pawai sepanjang rute. Dondang, sebuah tandu yang dihias dan diisi berbagai makanan tradisional seperti dodol, geplak, tape uli, opor ayam, hingga gabus pucung, menjadi lambang rasa syukur dan kebersamaan.
Acara tahunan ini bukan semata hiburan akhir pekan. Ia adalah napas panjang pelestarian budaya lokal yang perlahan mulai kehilangan pijakan, tergerus oleh derasnya arus informasi dan renggangnya keterikatan generasi muda terhadap akar mereka.
Tradisi seperti ini menjadi pengingat, bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai cerita masa lalu. Ia perlu terus dipraktikkan, dikenalkan kepada generasi muda, dan dihidupkan dalam keseharian.
Meski cuaca terik, warga tetap antusias mengikuti rangkaian acara. Melihat begitu luasnya kota bekasi sebagai metropolitan, masih tersisa masyarakat yang tetap menjunjung tinggi nilai budaya di tempat lahirnya.
Dalam festival ini, anak-anak muda menunjukkan bahwa keterlibatan mereka bukan sekadar formalitas. Mereka sadar, menjaga tradisi berarti merawat identitas, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh tren sesaat atau teknologi canggih.
Pada akhirnya, budaya bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari kehidupan yang harus terus dirawat bersama. Di tengah dunia yang terus bergerak, tradisi seperti bedug dan dondang adalah cara untuk tetap berpijak, mengingat dari mana kita berasal, dan ke mana kita ingin melangkah.
