Esai Foto: Sekolah Rakyat, Menyemai Asa Anak Bangsa
·waktu baca 2 menit

Aroma sabun mandi bercampur sedikit aroma cat tembok dari bangunan baru tercium di lorong asrama.

Suara sandal jepit beradu dengan lantai terdengar berlarian menuju kamar masing-masing.
Di sudut musala, seorang anak menata sajadah sambil sesekali melirik ke luar, menanti azan Magrib.
Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta, menjelang pukul 17.00 selalu menjadi momen sibuk namun penuh keteraturan; waktu bersiap untuk salat berjemaah.
SRMP 6 di kawasan Bambu Apus Jakarta Timur adalah satu dari 100 sekolah rakyat yang diresmikan pemerintah sebulan lalu.
Program gagasan Presiden Prabowo ini menyebar di berbagai daerah dengan lebih dari 9.000 siswa dari beragam latar belakang.
Misinya jelas, memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan merata, sambil membentuk karakter generasi muda agar mandiri dan berdaya.
Dan perjalanan ini masih berlanjut, berdasarkan data Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, pada September mendatang akan dibuka lagi 59 sekolah rakyat tambahan di sejumlah wilayah.
Di SRMP 6 Jakarta, 75 siswa kini memanggil asrama ini sebagai rumah. Ada Galih Yahdan Atlantik dari Bambu Apus, Kamila dari Klender, dan Glen dari Kalibaru. Pagi hingga siang mereka isi dengan belajar di kelas.
Sore hingga malam, waktu bergulir antara bermain, membaca, mengaji, atau sekadar duduk bercengkrama.
Kamila sering memanfaatkan jeda mengaji untuk menatap foto bersama ibunya, cara sederhana melepas rindu yang datang diam-diam.
Berbeda dengan sekolah biasa, tidak ada pekerjaan rumah yang dibawa pulang.
Semua pembelajaran dan pembinaan dilakukan di sini, di bawah pengawasan 16 tenaga pengajar, wali asuh, dan wali asrama.
Saat waktu makan tiba, mereka duduk di meja panjang sambil berbagi cerita.
Ketika jadwal piket kebersihan tiba, semua ikut turun tangan, dari menyapu halaman, teras asrama hingga merapikan kamar masing-masing.
Kebersamaan ini menjadi latihan kemandirian yang pelan-pelan berakar.
Awalnya, waktu kunjungan keluarga ditetapkan seminggu sekali. Namun setelah evaluasi, pengurus memutuskan menjadi sebulan sekali.
Alasannya bukan sekadar menghemat biaya perjalanan orang tua, tetapi juga untuk melatih mental anak-anak agar lebih mandiri.
Rindu memang terasa lebih panjang, tapi di sela-sela jarak itu, mereka belajar mengandalkan diri sendiri dan saling menjaga satu sama lain.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, SRMP 6 menjadi oase pendidikan; tempat tawa, doa, dan mimpi anak-anak berpadu. Dari ruang-ruang inilah, mereka menapaki jalan baru yang diharapkan akan membawa masa depan yang lebih cerah.
