Esai Foto: Upaya Mitigasi Konflik Gajah Sumatra dan Manusia

5 Juni 2022 12:13 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Keluarga Gajah; Tiga ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar terlihat berjalan di sekitar kantong habitat Sugihan-Simpang Heran. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga Gajah; Tiga ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar terlihat berjalan di sekitar kantong habitat Sugihan-Simpang Heran. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Suara raungan mesin diesel kapal katinting memecah kesunyian saat sebuah tim pemasangan kalung sistem pemosisian global (GPS collar) menyusuri kanal menuju lokasi dua kelompok gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar yang sering melintas di kawasan konsesi perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Simpang Heran, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Tim yang terdiri dari personel BKSDA Sumatera Selatan, Lembaga Swadaya Masyarakat Perkumpulan Jejaring Hutan Satwa (PJHS), dokter hewan, mahout (pawang) dan penembak bius yang sudah berpengalaman terus bergerak mendekati kawanan gajah tersebut.
Masuk ke Hutan; Sejumlah mahout (pawang) memanggul kalung GPS (GPS Collar) untuk dipasangkan ke leher gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pemasangan GPS collar dilakukan di kantong habitat Sugihan-Simpang Heran yang berada di area konsesi mitra pemasok APP Sinar Mas, PT Bumi Andalas Permai (BAP). Di dalam kawasan yang ditumbuhi tanaman akasia dan eukaliptus tersebut terdapat tiga kelompok gajah. Namun kali ini, pemasangan GPS collar hanya ditujukan untuk dua individu gajah yang hidup di dua kelompok gajah.
Peralatan Pemasangan GPS; Dua kalung GPS (GPS Collar) dan sejumlah peralatan pendukung yang digunakan untuk pemasangan kalung GPS kepada gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Obat Bius; Dokter hewan menyiapkan obat bius untuk ditembakkan ke seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) saat pemasangan kalung GPS (GPS Collar). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Kedua gajah Sumatra liar berjenis kelamin betina tersebut diberi nama Meilani (40 tahun) dengan berat 2.812 kg dan Meisi (30 tahun) dengan berat 2.545 kg. Selain pemasangan GPS Collar, dilakukan juga pengukuran lingkar badan, lingkar kaki termasuk pengambilan sampel darah pada kedua gajah tersebut.
Kedua gajah betina ini dinilai memenuhi syarat untuk dipasangi GPS Collar karena sudah berusia lebih dari 25 tahun, tidak dalam kondisi mengandung dan menjadi gajah dominan di kelompoknya.
Pemasangan Kalung GPS; Sejumlah mahout (pawang) memasangkan kalung GPS (GPS Collar) pada leher seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Menenangkan Gajah; Sejumlah mahout (pawang) memasangkan kalung GPS (GPS Collar) pada leher seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meilaini yang berjenis kelamin betina. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Tujuan dari pemasangan ini adalah untuk memantau pergerakan kelompok gajah sumatra sebagai upaya mitigasi konflik antara manusia dengan satwa dilindungi. Kelompok gajah yang akan dipasang GPS collar tersebut merupakan kelompok yang pernah berkonflik dengan manusia pada Rabu (4/5/2020)lalu.
Pengambilan Sampel Darah; Dokter hewan dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTN BBS) mengambil sampel darah seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) saat pemasangan kalung GPS (GPS Collar). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Penggunaan Kalung GPS; Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meisi yang berjenis kelamin betina dipasangkan kalung GPS (GPS Collar). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Ukur Lingkar Kaki; Seorang mahout (pawang) mengukur lingkar kaki seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berjenis kelamin betina. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pemetaan wilayah jelajah gajah sangat diperlukan untuk mendeteksi kebiasaan gajah dalam menjelajahi wilayahnya. "Biasanya kelompok gajah akan melewati jalur yang sama ketika menjelajahi sebuah wilayah," kata Kepala BKSDA Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata.
Ketika kelompok gajah itu masuk ke permukiman, warga bisa mendapatkan peringatan diri dari pihak berwenang agar lebih waspada dan menyiapkan diri ketika wilayahnya dilewati kelompok gajah. "Dengan begitu konflik antara manusia dan gajah bisa diminimalisasi," lanjut Ujang.
Kalung GPS Terpasang; Seekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meilaini yang berjenis kelamin betina terlihat dengan kalung GPS (GPS Collar) terpasang di lehernya. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Tampilan Posisi Gajah di Monitor; Petugas memantau pergerakan dua gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar bernama Meilani dan Meisi yang berjenis kelamin betina usai dipasangkan kalung GPS (GPS Collar). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Tidak hanya masyarakat, perusahaan yang area konsesinya dilalui kawanan gajah liar pun bisa memanfaatkan pemasangan GPS collar ini sehingga dalam pengembangan perusahaan tidak bersenggolan dengan kawasan jelajah gajah.
Namun, pemasangan GPS collar perlu disosialisasikan kepada masyarakat bahwa pemasangan tersebut bukan untuk menyelesaikan konflik. Jangan sampai masyarakat berpikir jika sudah dipasang GPS Collar maka konflik sudah selesai.
"GPS collar bukan remot untuk mengendalikan gajah. Tapi untuk memberikan early warning kepada masyarakat," tutup Ketua Forum Komunikasi Mahout Indonesia Nazaruddin.
Kelompok Gajah; Foto udara salah satu kelompok gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berjalan dan berenang di kanal di kantong habitat Sugihan-Simpang Heran. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi