Ethiopia Punya Presiden Wanita Pertama, Sahlework Zewde

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sahle-Work Zewde, presiden wanita pertama Ethiopia. (Foto: REUTERS/Tiksa Negeri)
zoom-in-whitePerbesar
Sahle-Work Zewde, presiden wanita pertama Ethiopia. (Foto: REUTERS/Tiksa Negeri)

Parlemen Ethiopia menunjuk Sahlework Zewde untuk menjadi presiden wanita pertama di negara tersebut. Penunjukkan ini menjadi satu lagi reformasi politik yang dilakukan oleh Perdana Menteri Abiy Ahmed.

Diberitakan Reuters, sidang parlemen di Addis Ababa yang disiarkan langsung di televisi menyatakan Sahlework layak jadi presiden. Dia adalah diplomat senior Ethiopia yang saat ini menempati posisi wakil kedua sekretaris jenderal PBB dan utusan khusus sekjen untuk Uni Afrika.

"Dalam langkah yang bersejarah ini, dua parlemen memilih Duta Besar Sahlework Zewde sebagai presiden berikutnya Ethiopia. Di adalah kepala negara perempuan pertama di Ethiopia modern," kata Fitsum Arega, kepala staf Abiy, di akun Twitternya.

"Di sistem patriarki seperti yang kami miliki, penunjukan perempuan sebagai kepala negara tidak hanya jadi tolok ukur di masa depan, tapi menormalisasi wanita sebagai pembuat keputusan di kehidupan masyarakat," ujar Arega lagi.

Sahle-Work Zewde, presiden wanita pertama Ethiopia. (Foto: REUTERS/Tiksa Negeri)
zoom-in-whitePerbesar
Sahle-Work Zewde, presiden wanita pertama Ethiopia. (Foto: REUTERS/Tiksa Negeri)

Presiden di Ethiopia adalah posisi seremonial. Kepala pemerintahan yang memiliki kekuatan eksekutif ada di tangan perdana menteri. Sejak terpilih April lalu, Abiy melakukan reformasi salah satunya membebaskan para tahanan politik dari pemerintahan sebelumnya.

Abiy juga melakukan perombakan kabinet, menunjuk 10 menteri perempuan. Hal ini menjadikan Ethiopia sebagai negara ketiga di Afrika, setelah Rwanda dan Seychelles, yang memiliki keseimbangan gender di kabinet.

Dalam pidato pertamanya, Sahlework mengatakan negaranya akan mewujudkan perdamaian demi kesejahteraan rakyat Ethiopia.

"Ketika tidak ada perdamaian di sebuah negeri, maka para ibu akan frustrasi. Untuk itu, kita harus mengupayakan perdamaian demi ibu-ibu kita," kata Sahlework.