Fadli Zon dan Putri Bungsu Bung Hatta Lepas Pawai Napak Tilas Proklamasi 2025

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menbud Fadli Zon, Wamenbud Giring Ganesha, dan putri bungsu Bung Hatta, Halida Hatta melepas Pawai Napak Tilas Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menbud Fadli Zon, Wamenbud Giring Ganesha, dan putri bungsu Bung Hatta, Halida Hatta melepas Pawai Napak Tilas Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Ratusan pelajar SMP dan SMA/SMK dari berbagai sekolah di Jakarta mengikuti Pawai Napak Tilas Proklamasi 2025, Sabtu (16/8). Kegiatan ini merupakan salah satu perayaan memperingati HUT ke-80 RI.

Pawai ini menempuh rute dari Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok), dan berakhir di Tugu Proklamasi.

Pelepasan peserta dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, hingga putri bungsu Proklamator Kemerdekaan RI Mohammad Hatta, Halida Hatta.

Fadli Zon menyampaikan kegiatan napak tilas ini menjadi pengingat pentingnya nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa.

“Saya sangat bergembira sekali bahwa apa yang telah diinisiasi sudah lama, melakukan napak tilas, perjalanan proklamasi sampai hari ini masih dilanjutkan,” ujar Fadli di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

Suasana pelepasan pawai napak tilas proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Ia juga menekankan peran penting Museum Perumusan Naskah Proklamasi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Gedung ini, Museum Perumusan Naskah Proklamasi ini adalah gedung yang sangat penting. Karena di sinilah Perumusan Naskah Proklamasi dilakukan oleh Sukarno, Hatta, Ahmad Subarjo, dan tokoh-tokoh yang hadir yang ada di dalam,” kata Fadli.

Fadli menambahkan, napak tilas ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para pahlawan, termasuk tokoh-tokoh yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan.

“Karena pengorbanan para pahlawan kita itu dengan darah, jiwa, air mata, dan juga banyak pahlawan-pahlawan yang tak dikenal, yang gugur dalam membela bangsa dan negara kita. Mari kita kenang mereka dengan mengisi kemerdekaan ini untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kemajuan Indonesia,” tutur Fadli.

“Dan mudah-mudahan nanti adik-adik ini di tahun 2045, 100 tahun Indonesia Merdeka, menjadi pemimpin-pemimpin di Indonesia,” tambahnya.

Mengenang Perjalanan Panjang Menuju Kemerdekaan

Sejumlah pengunjung melihat koleksi instalasi pameran dan arsip kemerdekaan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (16/8/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Dalam sambutannya, Fadli juga mengajak peserta pawai untuk mengingat bahwa perjuangan kemerdekaan telah dimulai jauh sebelum 1945. Ia juga menjelaskan momentum besar menuju kemerdekaan datang saat Perang Dunia II.

“Ada momentum yang besar, Perang Dunia ke-II, ada pemboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, yang membuat akhirnya Jepang yang sedang menjajah Indonesia ketika itu bertekuk lutut, dan secara sepihak tanggal 15 Agustus mengatakan mereka menyerahkan diri,” kata Fadli.

Menurutnya, kondisi itu menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan para proklamator untuk memproklamasikan kemerdekaan.

“Tapi belum formil, penyerahan diri sendiri baru dilakukan pada tanggal 2 September 1945. Jadi dari tanggal 15 Agustus ke tanggal 2 September itu ada semacam vacum of power, dan itulah kesempatan yang digunakan oleh proklamator kita, oleh para pendiri bangsa kita untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia,” jelasnya.

Suasana pelepasan pawai napak tilas proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Ia juga mengisahkan momen pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Ia menceritakan keberanian fotografer Frans dan Alex Mendur mengabadikan detik-detik proklamasi.

“Ada saksi-saksi sejarah ketika itu, dan beruntung kita ada yang memotret peristiwa itu, yaitu Frans dan Alex Mendur, karena dari foto-foto itulah ada bukti bahwa proklamasi telah dilaksanakan. Waktu itu ada 15 foto, 15 foto itu ditanam dulu di tanah, karena kalau tidak akan direbut oleh Jepang, dan dihancurkan,” ujarnya.

Di sisi lain, Halida Hatta juga mengungkapkan kegembiraannya dapat ikut hadir dalam pawai tersebut.

“Alhamdulillah kami sudah jalan tadi dari Gedung Joeang bersama rombongan dan jalan kemudian sudah sampai di sini. Dan sekarang mereka akan berangkat menuju Tugu Proklamasi,” tandasnya.