Fahri Temui Dokter Lintas Keahlian, Bahas KPPS yang Meninggal Dunia

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, menerima audiensi dokter dari berbagai keahlian. Dalam pertemuan itu, mereka membahas soal banyaknya anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang meninggal dunia usai menjalankan tugasnya dalam Pemilu Serentak 2019.

Fahri menilai pemerintah seharusnya melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab meninggalnya sejumlah anggota KPPS usai menjalankan tugasnya.

"Saya tertarik karena dokter-dokter dari berbagai keahlian yang tadi hadir dan saya kira sebaiknya pemerintah terbuka dengan apa yang terjadi, terutama KPU ya. Dibuka saja masalahnya apa dan investigasi," kata Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (6/5).

"Terhadap korban itu harus dilakukan satu per satu. Jangan membuat generalisasi lalu ada uang tutup mulut. Tidak boleh begitu," tambahnya.

Fahri mengaku tak terlalu setuju jika diadakan otopsi sampai penggalian kubur hingga visum untuk mengetahui penyebab meninggalnya KPPS. Ia juga meminta agar keluarga KPPS diwawancarai untuk mengetahui penyebab kematian dari keterangan keluarga.

"Bagaimana orang ini bisa meninggal. Sehingga ini bisa menjadi bahan bagi DPR, khususnya, untuk menemukan ini ada modus apa pada matinya jatuhnya korban sampai di atas 500 (orang)," tuturnya.

Pada kesempatan itu, salah satu perwakilan dokter, Ani Hasibuan yang merupakan dokter ahli syaraf, menyebut pihaknya hingga hari ini telah merangkum data sebanyak 68 orang yang sakit. Namun pihaknya baru mengecek 3 dari 68 tersebut, sehingga belum bisa memberikan evaluasi.

Namun, kata dia, investigasi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab meninggalnya anggota KPPS itu. Menurutnya, tidak masuk akal jika anggota KPPS yang meninggal semuanya karena alasan kelelahan.

"Karena kalau saya lihat meninggalnya ada yang ukurannya (umur) 27 tahun, ada yang 43 tahun yang secara statistik itu belum umur meninggal. Semua pasti meninggal tapi umur 43, 27 (tahun) kalau alasannya kelelahan, saya sebagai dokter (berpikir) ah masa," kata Ani.

Menurutnya, jika anggota KPPS yang meninggal di atas 500 orang, berarti ada ribuan orang yang sedang sakit. Hal seperti ini dikenal dengan kejadian luar biasa dalam dunia medis.

"Kalau ada penyakit tiba-tiba merebak membuat orang sakit dalam jumlah seketika waktu hampir yang bersamaan dan meninggal, itu sudah saatnya kita mengatakan wah ini kejadian luar biasa nih. Kita harus investigasi apa persoalannya," pungkasnya.