Fakta Baru Pelajar Tewas di Yogya: Bukan Klitih; Penjaga Warung Beri Kesaksian

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirreskrimum Polda DIY Kombes Ade Ary Syam Indradi di Polresta Yogyakarta, Selasa (5/4/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dirreskrimum Polda DIY Kombes Ade Ary Syam Indradi di Polresta Yogyakarta, Selasa (5/4/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Fakta-fakta baru terkait kasus pengejaran berujung sabetan gir ke arah muka yang menewaskan pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta bernama Daffa Adzin Albasith (17) bermunculan. Teranyar, pihak kepolisian menyatakan bahwa Daffa tewas karena tawuran.

"Untuk kejahatan kasus kejahatan jalanan yang kasuistis kemarin lebih tepatnya adalah tawuran sebenarnya, karena ada proses ketersinggungan ada proses ejek-ejekan dari dua kelompok," kata Ade Ary saat di Polresta Yogyakarta , Selasa (5/4).

Selain itu, sejumlah perkembangan mulai memperterang peristiwa tewasnya Daffa. Berikut kumparan rangkum di antaranya:

Polisi Olah TKP, Peristiwa Semakin Terang

Warung warmindo di Jalan Gedongkuning, Kota Yogyakarta, tempat korban Daffa Adzin Albasith (17) dan rombongannya berhenti sebelum mengejar kelompok pelaku dan melakukan tawuran. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Polisi telah beberapa kali melakukan olah TKP. Sebanyak 11 saksi juga sudah dimintai keterangan, termasuk rekan-rekan korban.

Dari penyelidikan terkini, kronologi kasus tewasnya Daffa semakin terang. Ade Ary menjelaskan bahwa kelompok korban yang terdiri 8 orang mengendarai 5 motor. Mereka mengetes mesin motor di jalur cepat Ring Road Selatan.

"Itu sekitar jam 1 dini hari di Jalan Ring Road Selatan. 5 motor ini mencoba kecepatan motornya," katanya.

Motor-motor tersebut melaju dengan kecepatan tinggi ditambah suara motor yang keras. Ketika di jalur lambat bertemulah kelompok korban dengan kelompok pelaku yang berjumlah 5 orang dengan 2 motor.

"Karena merasa terganggu bising kelompok korban, kelompok pelaku juga ikut membalas, membleyer membalas," katanya.

Setelah itu kelompok korban melanjutkan perjalanan ke arah Jalan Imogiri. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Jalan Gedongkuning dan berhenti di warung makan warmindo.

Saat sebagian turun memesan makanan, sebagian kelompok Daffa menyetandarkan kendaraan.

Saat kelompok korban di warmindo itulah, kelompok pelaku melintas. Sembari membleyer dia mengumpat dengan kata kasar. Hal itu ternyata memicu emosi korban.

"Kelompok pelaku lewat dengan membleyer dan mengatakan asu bajingan. Nah, hal ini memicu kelompok korban berupaya mengejar, dengan kecepatan tinggi pelaku melaju ke arah utara. Kemudian 4 motor kelompok korban itu mengejar," katanya.

Ternyata saat kelompok korban mengejar, kelompok pelaku berhenti dan berbalik arah seperti menunggu kedatangan kelompok korban. Salah satu di antara 5 orang dari kelompok pelaku turun dari motor. Dari keterangan saksi, pelaku membawa alat seperti gir yang sudah diikat dengan kain.

"Karena motor kelompok korban pertama kecepatan tinggi tidak sempat kena ayunan girnya," katanya.

Barulah di motor kedua di mana Daffa membonceng, ayunan gir tersebut mengenai pembonceng. Motor korban berbelok ke arah timur dan terjatuh. Sementara dari keterangan sejauh ini, kelompok korban belum diketahui turut membawa senjata atau tidak.

"Pembonceng saudara D terkena ayunan gir. Akhirnya motor korban belok arah timur dan terjatuh di situ," katanya.

"Tidak selang beberapa lama petugas patroli Sabhara Polda DIY menemukan korban dan langsung melakukan pertolongan korban dan membawa ke Rumah Sakit Hardjolukito," katanya.

Setelah mendapatkan perawatan korban kemudian meninggal dunia pada pukul 09.30 WIB.

Kesaksian Penjaga Warung

Warung warmindo di Jalan Gedongkuning, Kota Yogyakarta, tempat korban Daffa Adzin Albasith (17) dan rombongannya berhenti sebelum mengejar kelompok pelaku dan melakukan tawuran. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebelum peristiwa terjadi, kelompok korban sempat berhenti di warung warmindo Barakuda di Jalan Gedongkuning. Lokasi warung sekitar 100-an meter dari peristiwa korban disabet gir.

Penjaga warung warmindo, Opil, memberikan kesaksian soal peristiwa tersebut. Dia menjelaskan bahwa kelompok korban itu baru saja berhenti di depan warung untuk memesan makanan. Tetapi ada rombongan lain yang meneriaki, mereka pun lantas mengejar.

"Minggu jam 2 lebih. Setahuku anak-anak datang terus pada ngejar (kelompok pelaku). Baru mau pesen terus lari mengejar," kata Opil, Selasa (5/4).

Setelah itu terjadilah penganiayaan dengan gir tersebut. Namun, Opil mengaku tidak mendekat. Kemudian pagi harinya dia mendapat kabar satu orang tewas dalam tawuran tersebut.

Polisi Patroli dengan Maksimal

Peristiwa klitih tersebut membuat masyarakat khawatir. Terkait hal ini, polisi akan terus berpatroli untuk mencegah adanya kejahatan jalanan.

Ade Ary menjelaskan bahwa patroli terus dilakukan kepolisian. Sejumlah orang yang membawa senjata tajam pun ditangkap. Dia meminta jajaran reskrim juga terus berpatroli.

"Ditreskrimum berfokus pada kejahatan jalanan dengan patroli jam 2-5 pagi," kata Ade Ary.

"Semua bergerak 5 Polres, Kasat Reskrimnya kita minta lakukan antisipasi," tegasnya.

Selain meningkatkan patroli dan antisipasi, Ade Ary meminta masyarakat tak segan untuk memberikan informasi ke kepolisian apabila ada hal yang mencurigakan. Masyarakat dapat memanfaatkan call center Polri atau medsos resmi jajaran Polres maupun Polda.

CCTV Bisa Jadi Solusi

Ilustrasi CCTV di jalan. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengungkapkan hal yang bisa menjadi solusi dari kejahatan jalanan. Selain meningkatkan patroli, jumlah lampu penerangan jalan dan CCTV juga perlu ditambah.

"Penerangan jalan di tempat tempat rawan harus diperbaiki dan juga dipasang kamera kamera CCTV," kata Huda dikonfirmasi, Selasa (5/4).

Setelah dipasang CCTV, Huda menyarankan agar diberikan pengumuman bahwa sejumlah ruas jalan telah dipasang CCTV. Harapannya hal itu membuat para pelaku kejahatan jalanan berpikir ulang untuk beraksi.

"Diumumkan seluruh tempat di kota dan jalan-jalan tersebut dalam pantauan CCTV sehingga pelaku harus berpikir ulang jika mau beraksi," katanya.

Huda pun prihatin dan turut berduka atas meninggalnya salah satu pelajar akibat kejahatan jalanan beberapa waktu lalu. Dia pun meminta kepolisian untuk segera menangkap pelaku.

Polisi Minta Tak Gunakan Kata Klitih untuk Kejahatan Jalanan

Di samping peristiwa kejahatan jalanan yang terjadi, pihak kepolisian mengimbau soal penyebutan kejahatan tersebut tak menggunakan kata klitih. Sebab, sejatinya kata tersebut bermakna positif. Sehingga, dinilai tak tepat untuk disematkan sebagai kejahatan jalanan.

"Kata klitih ini mohon tidak digunakan lagi (untuk kejahatan jalanan), karena sudah salah kaprah definisi klitih yang sesungguhnya kita harus menghormati kearifan lokal artinya jalan-jalan sore mencari angin ngobrol-ngobrol itu budaya yang baik. Tapi kalau kita gunakan kata ini untuk kejahatan jalanan dan tawuran dan lain-lain, itu berkonotasi negatif," kata Ade Ary.