Fakta Baru Pembunuhan Lansia di Pekanbaru: Menantu Poliandri, Punya 2 Suami
ยทwaktu baca 3 menit

Fakta baru terungkap dalam kasus pembunuhan dan perampokan terhadap seorang lansia, Dimaris Isni Sitio (60), yang ditemukan tewas di rumahnya di Kota Pekanbaru, Riau.
Kejahatan sadis ini diotaki oleh menantu korban, Anisa Florensa Tumanggor (21).
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Hasyim Risahondua, mengungkapkan bahwa Anisa memiliki hubungan khusus dengan eksekutor pembunuhan, Selamat (34).
"Keduanya menikah siri sekitar enam bulan yang lalu," kata Hasyim saat konferensi pers di Polresta Pekanbaru, Minggu (3/5).
Anisa saat menikah dengan Selamat masih berstatus sebagai istri sah dari anak korban.
Anisa dijodohkan oleh pihak korban dengan anak sulungnya yang berkebutuhan khusus, inisial A. Mereka menikah pada 2023. Namun, pada tahun yang sama, Anisa meninggalkan rumah dan pergi ke Kota Medan.
"Setelah sampai di Medan, Anisa bekerja sebagai kasir di salah satu spa di Kota Medan," ujar Hasyim.
Di Medan, Anisa kemudian berkenalan dengan Selamat hingga akhirnya menjalin hubungan dan menikah siri. Dari hubungan inilah keduanya kemudian terlibat dalam perencanaan aksi kejahatan tersebut.
Dengan demikian, Anisa memiliki dua suami alias poliandri, yaitu dengan A dan Selamat.
Empat Pelaku Pembunuhan Lansia di Pekanbaru Terancam Hukuman Mati
Anisa Florensa Tumanggor (21), Selamat (34), Erwandi (40), dan Lisbet Barasa (22) kini terancam hukuman mati.
Kombes Hasyim mengatakan para pelaku dijerat dengan pasal pembunuhan berencana.
"Para pelaku disangkakan pasal pembunuhan berencana, serta Pasal 459 dan 458 ayat (3) KUHP," kata Hasyim saat konferensi pers di Polresta Pekanbaru, Minggu (3/5).
"Atas perbuatannya, para tersangka terancam hukuman maksimal berupa pidana mati atau penjara seumur hidup," tambahnya.
Dalam pengungkapan kasus ini, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya berbagai perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, serta barang berharga lainnya seperti jam tangan, laptop, speaker, telepon genggam, hingga uang tunai sebesar 400 dolar Singapura.
Selain itu, petugas juga menyita satu unit mobil jenis Daihatsu Xenia yang digunakan para pelaku dalam menjalankan aksinya.
Motif Perampokan Lansia di Riau: Sakit Hati dan Kebutuhan Ekonomi
Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa motif pembunuhan dilatarbelakangi oleh sakit hati dan faktor ekonomi. Anisa mengaku dendam terhadap korban yang merupakan mertuanya.
"Motifnya sakit hati. Pelaku mengaku selama tinggal bersama korban sering dimarahi dan diperlakukan tidak baik," beber Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Muharman Arta.
Selain itu, para pelaku juga memiliki motif ekonomi, yakni ingin menguasai harta benda milik korban.
"Selain sakit hati, ada juga motif ekonomi, yaitu ingin menguasai harta benda korban," ujar Muharman.
"Dalam aksinya, SL [Selamat] melakukan pemukulan terhadap korban menggunakan balok kayu hingga korban meninggal dunia. Setelah itu, para pelaku mengambil barang berharga milik korban dan melarikan diri," tambahnya.
