Fakta-fakta Investigasi Meninggalnya Dokter Internship di Jambi
·waktu baca 5 menit

Kementerian Kesehatan mengungkap sejumlah temuan dalam kasus meninggalnya dokter internship, dr Myta Aprilia Azmy, di Kuala Tungkal, Jambi. Mulai dari dugaan manipulasi jadwal jaga, minimnya kepedulian dokter pendamping, hingga kondisi dr Myta yang tetap bertugas meski sedang sakit menjadi sorotan dalam hasil investigasi Kemenkes.
Di tengah duka yang masih dirasakan keluarga, orang tua dr Myta berharap kasus ini menjadi titik evaluasi sistem internship dokter di Indonesia agar tidak ada lagi peserta program yang mengalami nasib serupa. Kemenkes pun mengambil sejumlah langkah, termasuk membekukan sementara program internship di Kuala Tungkal dan memberi teguran berat kepada dokter pendamping.
Harap Ortu Dokter Internship di Jambo: Semoga Tidak Ada 'Myta' Selanjutnya
Orang tua dr Myta Aprilia Azmy, Okta dan Haidriatul, berharap kasus yang menimpa putrinya menjadi titik perbaikan sistem internship dokter di Indonesia agar tidak ada lagi peserta internship yang mengalami nasib serupa.
“Harapan kami sebagai orang tua Myta adalah semoga sistem dokter iship yang sudah baik, akan makin membaik ke depannya, sehingga tidak ada lagi 'Myta-Myta' selanjutnya,” ujar Okta melalui video conference saat konferensi pers bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Keluarga mengaku mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan, termasuk bantuan beasiswa untuk adik dr Myta yang saat ini juga tengah menempuh pendidikan kedokteran.
“Ucapan terima kasih juga yang begitu besar dari kami, keluarga Myta, di tengah duka mendalam kami. Kami diberikan kejutan oleh Bapak Kemenkes. Bapak memberikan kabar bahagia bahwa adiknya Myta akan dibantu beasiswa sampai selesai pendidikannya. Terima kasih, Pak Menteri Kesehatan,” kata Okta.
Kemenkes Bekukan Sementara Program Magang di Kuala Tungkal Buntut Kasus Dr Myta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membekukan sementara program internship atau magang di Puskesmas dan RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi, menyusul kasus meninggalnya dr Myta Aprilia Azmy.
“Jadi saat ini saya sudah mendapatkan pengaduan yang banyak sekali,” kata Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes, Yuli Farianti, dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Selain penundaan keberangkatan, Kemenkes juga memutuskan membekukan wahana internship di Kuala Tungkal, baik di rumah sakit maupun puskesmas, sampai hasil investigasi selesai sepenuhnya.
“Seluruh teman-teman internship saat ini kami alihkan terlebih dahulu. Jadi kita tarik semua dari wahana tersebut baik peserta PIDI maupun PIDGI dari wahana Puskesmas maupun rumah sakit di Kuala Tungkal ya. Jadi itu yang sudah kita lakukan,” kata Yuli.
Kemenkes Beri Teguran Berat ke Pendamping Dokter Internship di Jambi
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjatuhkan sanksi berupa teguran berat kepada dokter pendamping program internship di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi, menyusul kasus meninggalnya dr Myta Aprilia Azmy.
“Dokter pendamping juga nanti akan mengikuti tatanan itu audit terkait dengan APP (Aturan Penyelenggaraan Program),” jelas Yuli dalam konferensi pers hasil investigasi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Hal itu dilakukan karena adanya dugaan manipulasi jadwal yang dilakukan oleh dokter pendamping.
“Termasuk untuk sementara, untuk pendamping kami membuat surat teguran berat untuk APP,” lanjutnya dalam konferensi pers hasil investigasi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Kemenkes Putar VN Dokter Internship di Jambi Sebelum Meninggal: Aku Enggak Kuat
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memutar sejumlah voice note (VN) atau pesan suara milik dr. Myta Aprilia Azmy, saat menyampaikan kondisi kesehatannya kepada rekan sesama dokter internship sebelum meninggal dunia.
“Di tanggal 26 Maret, ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tungkal, Dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD. Kemudian, yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, dalam konferensi pers hasil investigasi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Dalam voice note tersebut, dr. Myta menceritakan dirinya mengalami demam tinggi, batuk, pilek, hingga sulit membuka mata.
“Astri… Aku… Aku mau minta tolong… Ng… Mau minta tolong. Jadi, kalau dari jadwal kan Astri ini ya, apa, libur, ndak sih? Libur, ndak sih? Aku… Mau minta tolong gantiin jadwal aku, yang pagi ini. Kalau misal… Kamu… Bisa… Hari ini aja. Nanti yang malam biarlah Rena nanti yang gantiin… Kalau yang aku sih kayak… Enggak kuat, Astri…,” kata dr Myta dalam rekaman tersebut.
Kemenkes: Pandamping Dokter Internship di Jambi yang Meninggal Minim Kepedulian
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti minimnya kepedulian dokter pendamping terhadap dokter internship atau magang di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi.
“Kepedulian dari pendamping itu terhadap peserta internship itu sangat-sangat minim gitu,” kata Yuli dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Menurut Yuli, pendamping seharusnya memantau kondisi kesehatan peserta internship secara aktif, terutama ketika peserta mengalami sakit berkepanjangan.
“Seharusnya tugasnya adalah memantau status kesehatan dari peserta iship (internship). Jangan juga dia sakit kayak tadi, apakah pendampingnya tahu? Tahu. Batuk pilek, batuk pilek tapi tidak ada awareness pendamping, apa yang harus dilakukan oleh pendamping,” tutur Yuli.
Kemenkes: Dr Myta Tetap Bertugas Saat Sakit, Ada Manipulasi Jadwal
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap dokter peserta internship atau magang, dr Myta Aprilia Azmy, tetap menjalankan tugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi, meski mengalami sakit.
“Di tanggal 26 Maret ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tunggal, dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD, kemudian yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri,” kata Rudi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Dalam investigasi yang dilakukan, Kemenkes juga menemukan dugaan manipulasi jadwal jaga oleh dokter pendamping internship.
“Artinya ini ada instruksi dari dokter J selaku pendamping ke peserta untuk memanipulasi data. Ini data-datanya kita sudah lihat, dan dokter MAA yang wafat tadi juga tertandatangani,” tutup Rudi.
