Fakta-fakta Tewasnya Wali Kota Seoul, Park Won-soon

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Park Won-soon. Foto: seoul.go.kr
zoom-in-whitePerbesar
Park Won-soon. Foto: seoul.go.kr

Masyarakat Korea Selatan dan dunia digegerkan tewasnya Wali Kota Seoul, Park Won-soon. Jenazah Park ditemukan di Pegunungan Bugak, Seoul, pada Kamis (9/7) tengah malam.

Park memimpin Seoul sejak 2011 dan dikenal sebagai politikus paling berpengaruh di Korsel. Selama pandemi virus corona, ia memainkan peran penting sebagai Wali Kota.

Sebelum ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, Park Won-soon sempat dilaporkan hilang oleh putrinya pada sore harinya. Selain itu, pria berusia 64 tahun itu tengah tersangkut kasus dugaan pelecehan seksual.

Hingga kini, belum diketahui penyebab pasti kematiannya. Namun kepolisian Korsel menduga kuat jika Park tewas akibat bunuh diri.

Berikut kumparan rangkum sejumlah fakta kasus Wali Kota Seoul tewas:

Park Won-soon. Foto: Getty Images

Park Won-soon Pergi Pukul 10.40 Pagi Sebelum Ditemukan Tewas

Kamis pagi, Park meninggalkan kediaman resmi Wali Kota Seoul, sekitar pukul 10.40 waktu setempat. Dia mengenakan topi hitam dan ransel.

Saat itu, Park juga membatalkan sejumlah pertemuan pembahasan kebijakan. Sore harinya, putri Park melaporkan ayahnya hilang.

Pada malam harinya, jasad Park ditemukan tempat sinyal teleponnya terakhir terdeteksi. Jenazahnya dibawa keluar dari hutan dengan tandu oleh petugas forensik dan dibawa ke rumah sakit.

Park Won-soon. Foto: Getty Images

Park Won-soon Tinggalkan Surat Wasiat

Park Won-soon ternyata sudah meninggalkan surat wasiat di kediamannya sebelum ditemukan tewas. Dalam catatan itu, Park menyampaikan permohonan maaf.

"Saya meminta maaf ke semua orang. Saya berterima kasih kepada orang-orang yang bersama di dalam hidup," tulis Park seperti dikutip dari AFP.

"Selamat tinggal semua," sambung Park.

Park menambahkan, dirinya ingin jasadnya dikremasi lalu abunya disebar di makam kedua orang tuanya.

Ilustrasi pelecehan seksual. Foto: Shutter Stock

Park Won-soon Dilaporkan oleh Mantan Sekretaris Terkait Dugaan Pelecehan Seksual

Sehari sebelum ditemukan tewas atau pada Rabu (8/7), Park dilaporkan oleh mantan sekretarisnya. Ia dilaporkan terkait kasus dugaan pelecehan seksual.

Sekretaris tersebut bekerja untuk Park sejak 2015. Berdasarkan dokumen yang tadinya ditujukan sebagai pernyataan resmi korban, Park diduga melakukan pelecehan seksual saat jam kerja.

Salah satu tindakan yang diduga dilakukan Park adalah memeluk sekretarisnya di dekat kamar tidur yang berada di kantornya.

Bukan cuma itu, Park juga dituduh pernah mengirimkan selfie dirinya sedang di tempat tidur hanya menggunakan pakaian dalam kepada korbannya. Foto tersebut disertai pula dengan kalimat tak pantas.

Pencarian Walikota Seoul yang dinyatakan hilang. Foto: Kim Hong-Ji/Reuters

Park Won-soon Diduga Bunuh Diri

Park diduga kuat tewas akibat bunuh diri. Sebab polisi tidak menemukan adanya bekas tindak kriminal di sekujur tubuhnya.

Jika Park memang bunuh diri, ia merupakan pejabat publik tertinggi kedua di Korsel yang mengakhiri hidup dengan cara seperti itu.

Sebelumnya, eks Presiden Korsel Roh Moo-hyun bunuh diri dengan cara melompat dari tebing pada 2009 lalu. Roh bunuh diri saat sedang diperiksa terkait kasus dugaan korupsi.

Wali Kota Seoul Park Won-soon. Foto: JUNG Yeon-Je / AFP

Park Won-soon Sosok Politikus Ulung, Calon Kuat Capres Korsel

Semasa hidup Park merupakan politikus ternama. Sejak menjabat Wali Kota Seoul pada 2011,tokoh berat di Partai Demokrat telah banyak membuat kebijakan pembangunan dan kemajuan kota selama hampir satu dekade.

Park juga dikenal sebagai pemimpin yang pro terhadap kaum perempuan dan kesetaraan gender.

Park disebut secara konsisten sebagai kandidat potensial calon Presiden Korea Selatan, pengganti Moon Jae-in pada pemilihan 2022 mendatang. Ia juga sempat mengamini peluang dirinya di pemilihan 2022.

kumparan post embed

Park memiliki latar belakang yang sama dengan Moon, sebagai aktivis mahasiswa di masa diktator militer Korea Selatan. Ia kemudian menjadi seorang pengacara HAM.

Meski sukses sebagai politikus dan pengacara HAM, pendidikan Park di perguruan tingginya ternyata tak berjalan mulus. Dia dikeluarkan dari Universitas Nasional Seoul pada 1975, sebulan setelah memasuki universitas bergengsi itu.

Ia dikeluarkan dari kampus karena mengambil bagian dalam rapat umum melawan Presiden Korsel saat itu Park Chung-hee. Ia pun dipenjara selama empat bulan.

Namun, Park menganggap waktu saat di penjara sebagai masa-masa bahagia. Ia merasa produktif untuk membuat target dan tujuan hidupnya.

Presiden Jokowi saat menyusuri Cheongyechong pada September 2018. Foto: Setkabgoid

Park Won-soon Sosok yang Menginspirasi Jokowi untuk Sulap Ciliwung

Park ternyata menginspirasi Presiden Jokowi yang ingin menyulap Sungai Ciliwung menjadi seperti Cheonggyecheon (Sungai Cheonggye) di Seoul. Keinginan Jokowi itu disampaikannya saat kunjungan kenegaraan ke Korsel September 2018.

Jokowi sendiri merupakan warga kehormatan Seoul sejak 2017 dan diperkenankan meminta apa saja ke pemerintah Kota Seoul. Namun, Jokowi hanya ingin meminta resep Park menyulap Cheonggyecheon semakin indah dan bersih.

Park kala itu terkesan dengan Jokowi, sebab sebagai seorang pemimpin negara, dia masih mau menyusuri sungai di pagi hari. Park lalu bersedia membantu Jokowi menyulap Sungai Ciliwung yang kerap menjadi sumber masalah di Jakarta.

kumparan post embed
embed from external kumparan