Fakta Pelaku Pembakar Studio di Jepang: Gamer yang Kurang Merawat Diri

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah petugas pemadam kebakaran menyelidiki di dalam gedung Animasi Kyoto yang dibakar di Kyoto, Jepang. Foto: AFP/ JAPAN POOL VIA JIJI PRESS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah petugas pemadam kebakaran menyelidiki di dalam gedung Animasi Kyoto yang dibakar di Kyoto, Jepang. Foto: AFP/ JAPAN POOL VIA JIJI PRESS

Kepolisian Jepang telah menangkap seorang pria yang diduga sebagai pelaku serangan pembakaran studio animasi 'KyoAni' di Kyoto, Jepang.

Pelaku bernama Shinji Aoba. Dia telah menjadi salah satu pencetak sejarah baru di Jepang, sebab kebakaran yang terjadi pada Kamis (18/7) itu menjadi pembunuhan massal terburuk di Jepang dalam dua dekade terakhir.

Insiden ini menyebabkan 34 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Gedung Animasi Kyoto di Jepang. Foto: Wikipedia

Siapa Shinji Aoba?

Ia adalah seorang pria berusia 41 tahun. Dia tinggal sendirian di lantai dasar sebuah apartemen berlantai dua di pinggiran Omiya.

Kota itu, letaknya cukup jauh dari lokasi studio animasi yang dibakar, sekitar 500 kilometer dari Kyoto.

Tetangganya menggambarkan Aoba sebagai orang yang kurang merawat diri. Aoba disebut gemuk, tidak terawat dan ada cacat pada kulitnya.

Kondisi gedung Animasi Kyoto yang dibakar di Kyoto, Jepang. Foto: AFP/ JAPAN POOL VIA JIJI PRESS

Di siang hari, Aoba dikenal sebagai pribadi yang lebih sering menghabiskan waktunya di kamarnya. Dia jarang keluar atau berbicara dengan siapa pun.

"Saya belum pernah melihatnya keluar di siang hari, bahkan ke warung. Saya secara teratur baru mendengarnya keluar sekitar tengah malam," kata tetangga Aoba, seorang pria berusia 21 tahun yang enggan menyebutkan namanya, dilansir Reuters, Minggu (21/7)

Gamers dan Suka Ribut dengan Tetangga

Aoba dikenal sebagai seorang gamers yang doyan main tanpa henti. Musik dari video game terus menerus terdengar dari apartemen Aoba setiap saat.

Suara video game itu cukup kencang hingga sempat memicu kericuhan dengan tetangga yang terganggu karena berisik pada tahun lalu.

embed from external kumparan

Pada 14 Juli, beberapa hari sebelum aksi membakar studio itu, Aoba kembali ribut dengan tetangganya.

Saat itu, ia menggedor-gedor pintu salah satu tetangganya karena merasa tetangganya itu berisik. Ia meraih tubuh tetangganya itu dan mengancamnya untuk diam.

Seorang wanita menaruh bungan di dekat gedung Animasi Kyoto yang dibakar di Kyoto, Jepang. Foto: AFP/ JAPAN POOL VIA JIJI PRESS

Tetangganya kemudian kembali ke apartemen Aoba memberitahunya bahwa suara itu berasal dari unit lain.

"Ketika dia keluar dari apartemennya, matanya merah, dan dia meneriaki saya agar saya diam," kata tetagga itu.

"Dia mencengkeram kerah bajuku dan mulai menarik rambutku, mengerikan," ujarnya.

Pernah Dipenjara karena Merampok

Media lokal Jepang melaporkan bahwa Aoba merupakan penduduk baru di apartemen di kota Omiya.

Dia baru pindah dan tinggal di apartemennya sekitar tiga tahun lalu. Ia mulai menempati apartemen itu setelah bebas dari penjara atas kasus perampokan sebuah toko pada tahun 2012.

Dia juga menerima perawatan untuk penyakit mental.

Studio animasi di Kyoto, Jepang dibakar orang tak dikenal, Kamis (18/7). Foto: AFP/JIJI Press

Polisi Keluarkan Surat Penangkapan Sabtu

Pada Sabtu (20/7) malam, kepolisian Jepang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Aoba.

Pria berusia 41 tahun itu diduga secara sengaja menyiram rumah produksi animasi itu dengan bensin lalu membakarnya.

Saksi mata juga sempat mendengar Aoba berteriak 'mati kau' sesaat sebelum menyalakan api.

embed from external kumparan

Namun, Aoba belum bisa dimintai keterangan lebih lanjut karena dia sendiri ikut jadi korban kebakaran dan belum sadar diri.

Tubuhnya dilaporkan mengalami luka bakar yang cukup serius dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Hingga kini masih belum dapat dipastikan motif di balik penyerangan yang dilakukan Aoba. Namun, media setempat melaporkan bahwa aksi itu dilakukan karena Aoba merasa studio animasi tersebut telah menjiplak novelnya.