Fakta Rudal IRBM Korut: Tiga Kali Lintasi Jepang, Mampu Jangkau Wilayah AS
·waktu baca 6 menit

Korea Utara pada Selasa (4/10) menembakkan rudal balistik jarak menengah (IRBM) hingga melintasi wilayah timur laut Jepang untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Dilansir Kyodo News, peluncuran itu mendesak evakuasi dan penangguhan layanan transportasi di Jepang. Ketua Sekretariat Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno, mengatakan rudal itu diluncurkan pada pukul 07.22 waktu setempat dan mendarat di Samudera Pasifik.
Rudal tersebut meluncur dari daerah Mupyong-ri di Provinsi Jagang, Korut. Pyongyang sering kali melangsungkan uji coba persenjataannya dari wilayah itu akhir-akhir ini. Korsel mengatakan, Mupyong-ri terletak dekat perbatasan Korut dengan China.
Setelah perjalanan selama 22 menit, IRBM jatuh sekitar 3.000 kilometer dari timur gugusan kepulauan, tepatnya di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang. Korea Selatan menerangkan, rudal tersebut terbang dengan jangkauan sekitar 4.500 kilometer.
Tetapi, Jepang meyakini bahwa jangkauan rudal itu menyentuh 4.600 kilometer. IRBM tersebut melintas pada ketinggian sekitar 970 kilometer dan kecepatan sekitar Mach 17.
"Rincian spesifik sedang dalam analisis dekat oleh intelijen Korea Selatan dan AS," tulis pernyataan Kepala Staf Gabungan Korsel, dikutip dari AFP, Selasa (4/10).
Korut telah menggelar 23 uji coba persenjataan dengan melibatkan 43 rudal balistik dan jelajah sejak awal 2022. Namun, peluncuran terbaru adalah uji coba rudal paling signifikan. Sebab, Jepang sampai terdesak untuk memperingatkan penduduknya agar berlindung.
Jangkauan rudal tersebut juga diduga merupakan yang terjauh sampai saat ini. Korut biasanya 'meninggikan' tembakan rudal demi menghindari lintasan di atas negara-negara tetangga. Ini adalah pertama kalinya rudal Korut terbang di atas Jepang sejak 2017.
Mengingat jangkauannya, ahli meyakini, rudal itu adalah jenis IRBM Hwasong-12. Peluncuran tersebut lantas menjadi eskalasi terbesar oleh Korut yang menantang aliansi Korsel dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Selama beberapa hari terakhir, ketiga negara itu mengadakan latihan militer bersama yang melibatkan kapal induk AS.
Korut turut menembakkan rudal sebagai tanggapan atas perjalanan Wakil Presiden AS, Kamala Harris. Menegaskan komitmennya terhadap keamanan Korsel, dia mengunjungi zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua Korea pada 29 September.
Analis mengatakan, rentetan uji coba tak hanya membantu menguji persenjataannya dalam kondisi yang lebih realistis, serta mengembangkan kemampuan militer barunya. Korut juga tengah mengirim pesan bahwa pengembangan semacam itu adalah haknya.
"Secara politis, ini rumit: rudal itu sebagian besar terbang di luar atmosfer ketika melewati Jepang, tetapi jelas menyusahkan bagi publik Jepang untuk menerima peringatan tentang kemungkinan datangnya rudal Korea Utara," terang analis dari Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda, dikutip dari Reuters.
Bisa Hantam Wilayah AS
Menurut Badan Pertahanan Rudal (MDA) AS, IRBM adalah rudal balistik yang memiliki jangkauan antara rudal balistik jarak sedang (MRBM) dan rudal balistik antarbenua (ICBM). IRBM mampu menjangkau jarak antara 3.000 hingga 5.500 kilometer.
Sebenarnya, klasifikasi berdasarkan jangkauan hanya dibuat untuk memudahkan. Hanya ada sedikit perbedaan antara ICBM berkinerja rendah dan IRBM berkinerja tinggi. Penurunan massa muatan bisa meningkatkan jangkauan IRBM melebihi ambang batas ICBM.
Diberitakan The Diplomat, Hwasong-12 adalah satu-satunya IRBM yang kini ada dalam gudang persenjataan Korut. Pyongyang memiliki IRBM lain, yakni Hwasong-10 atau Musudan. Tetapi, rudal itu tampaknya tidak lagi menjadi fokus pengembangan nuklir Korut.
Korut pertama kali memamerkan Hwasong-10 dalam parade militer pada 10 Oktober 2010. Rudal dengan jangkauan 3.200 kilometer itu mampu menghantam target apa pun di Asia Timur. Hwasong-10 bahkan bisa menyerang pangkalan militer AS di Guam dan Okinawa.
Menurut laporan AS pada 2017, Korut memiliki kurang dari 50 peluncur Hwasong-10. Korut menguji rudal tersebut sejak April 2016. Namun, hanya dua uji coba yang berhasil. Hwasong-10 tidak tampil kembali dalam parade militer pada April 2017 dan Februari 2018.
Hwasong-10 terbukti tidak dapat diandalkan selama pengujiannya. Alhasil, ahli meyakini, Korut meluncurkan Hwasong-12 sebagai pengganti Hwasong-10. IRBM itu pertama kali unjuk gigi dalam parade militer Korut pada 14 April 2017.
Hwasong-12 memiliki jangkauan maksimum antara 3.700 kilometer dengan muatan 650 kilogram, hingga 4.500 kilometer dengan muatan 500 kilogram. Tetapi, rudal itu mampu mencapai 6.000 kilometer, melampaui ICBM dengan jangkauan setidaknya 5.500 kilometer.
Sebagaimana rudal pendahulunya, Korut memperingatkan, Hwasong-12 mampu menerjang wilayah AS, yakni Pulau Guam.
Lintasi Wilayah Jepang
Hwasong-10 berkesempatan diluncurkan hingga delapan kali sepanjang 2016. Korut menemui kegagalan saat menembakkan rudal itu tiga kali selama April dan sekali pada Mei. Hwasong-10 kemudian berhasil melalui uji coba berikutnya dalam selang waktu sebulan.
Korut menembakkan Hwasong-10 yang jatuh pada jarak 150 kilometer pada 22 Juni 2016. Walau diluncurkan dengan aman, rudal tersebut meledak di tengah jalan. Ahli mengatakan, Korut mungkin sengaja menghentikan penerbangan Hwasong-10 agar tidak melintasi Jepang.
Korut kembali meluncurkan Hwasong-10 pada 22 Juni 2016. Korsel, AS, dan Jepang mengonfirmasikan bahwa rudal tersebut mencapai puncak sekitar 1.000 kilometer sebelum mendarat di Laut Jepang.
Sebagaimana sebelumnya, Korut sengaja menembakkan rudal itu pada sudut curam sehingga bisa menghindari wilayah udara Jepang. Hwasong-10 menjelajahi sekitar 400 kilometer dari lokasi peluncuran.
Korsel dan AS kemudian melaporkan peluncuran Hwasong-10 pada 15 Oktober 2016 dan 20 Oktober 2016. Tetapi, Korut tidak mengabarkan uji coba itu maupun menanggapi laporan kedua negara tersebut.
Menggantikan Hwasong-10, Korut memperkenalkan Hwasong-12 kepada komunitas internasional untuk pertama kalinya dalam parade militer pada 14 April 2017. Negara itu tengah merayakan Hari Matahari atau hari kelahiran pendiri Korut, Kim Il-sung.
Tetapi, Korut telah terlebih dahulu mengujinya sejak 4 April 2017. Rudal tersebut menempuh jarak 60 kilometer dengan puncak 189 kilometer sebelum berhenti. Hwasong-12 kembali mengadang kegagalan dalam uji coba pada 15 April 2017 dan 28 April 2017.
Korut mencatat keberhasilan pertamanya sebulan kemudian. Pihaknya saat itu menembakkan Hwasong-12 dua kali di atas Jepang. Pemimpin Korut, Kim Jong-un, kala itu terlibat dalam pertikaian dengan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Mereka saling bertukar hinaan pribadi hingga ancaman perang. Korut lantas mengancam akan menembakkan empat IRBM ke pangkalan militer AS di Guam. Wilayah di Samudera Pasifik itu berfungsi sebagai landasan bala bantuan AS bila perang meletus di Semenanjung Korea.
Kim akhirnya menembakkan Hwasong-12 yang mendarat 787 kilometer di Laut Jepang pada 14 Mei 2017. Rudal tersebut lalu terbang di atas wilayah Jepang dengan jangkauan 2.700 kilometer sebelum mendarat di Samudera Pasifik pada 29 Agustus 2017.
Untuk kedua kalinya, Hwasong-12 kembali terbang melintasi wilayah Jepang pada 15 September 2017. Rudal itu melesat dengan jangkauan 3.700 kilometer dan mendarat di Samudera Pasifik.
Hwasong-12 terakhir kali ditembakkan Korut pada 30 Januari 2022 pada jangkauan 800 kilometer lantaran sengaja ditembak pada puncak yang lebih rendah. Rudal itu mencapai ketinggian 2.000 kilometer sebelum jatuh di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Semenanjung Korea.
Dengan demikian, Hwasong-12 telah berhasil melewati empat dari tujuh pengujian secara keseluruhan. Jika peluncuran terbaru melibatkan Hwasong-12, maka rudal itu telah mencetak rekor baru dengan jangkauan 4.500 sampai 4.600 kilometer.
"Ini adalah tes kedelapan dari Hwasong-12 dan yang ketiga kalinya telah melintasi Jepang," cuit ahli dari Middlebury Institute of International Studies, Jeffrey Lewis, di Twitter.
