Fenomena di Amerika Selatan: Obesitas Meningkat, Krisis Pangan Meluas

Warga Amerika Selatan dan Karibia menghadapi persoalan paradoksial. Di satu sisi, sebagian warganya kelebihan berat badan alias obesitas. Di sisi lainnya, sejumlah orang mengalami krisis pangan.
"Di Amerika Latin dan Karibia, obesitas saat ini terjadi pada sekitar seperempat dari populasi, sekitar 60 persen dari populasi kelebihan berat badan," tulis Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) dan UN'S Food and Agricultural Organization (FAO) dalam laporannya, dikutip dari AFP, Senin (8/7).
Menurut OECD dan FAO, jumlah penderita obesitas di wilayah tersebut mengalami perkembangan pesat.
Kelebihan berat badan dipicu karena konsumsi kalori yang berlebihan, diet yang tidak seimbang, serta penurunan aktivitas.
"Obesitas tampaknya terus meningkat, mempengaruhi sebagian populasi berpenghasilan rendah, wanita, masyarakat adat, Afrodescendants, dan dalam beberapa kasus, anak-anak," tulis laporan itu.
Laporan itu menyebutkan ada pergeseran jenis makan dari makanan tradisional yang kaya akan serat seperti sereal, umbi, dan kacang-kacangan menuju ke protein hewani.
Presentase konsumsi kalori berbasis lemak juga mengalami peningkatan di seluruh wilayah dua negara tersebut, meskipun masih berada di bawah batas aman.
Anehnya, pada saat yang bersamaan sebagian warga di Amerika Selatan dan Karibia juga mengalami krisis pangan.
"Paradoksnya, sebagai daerah yang surplus produk pertanian dan pangan, Amerika Latin memiliki jumlah populasi rawan pangan yang mengalami peningkatan selama tiga tahun berturut-turut," tulis laporan itu lagi.
OECD dan FAO menganalisis peningkatan jumlah warga yang mengalami krisis pangan disebabkan karena ketidaksetaraan akses, bukan karena minimnya jumlah makanan.
Sebab, Amerika Latin sendiri termasuk salah satu negara pengekspor makanan utama di dunia.
"Keterjangkauan makanan bagi konsumen miskin, daripada ketersediaan fisik makanan," kata laporan itu.
