Fenomena Hujan Es Turun di Cikini Jakpus, Begini Penjelasan BMKG

30 September 2025 18:01 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fenomena Hujan Es Turun di Cikini Jakpus, Begini Penjelasan BMKG
Fenomena hujan es terjadi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (30/9) sore. Hujan es tersebut sempat mengejutkan warga karena jarang terjadi di wilayah Jakarta.
kumparanNEWS
Ilustrasi hujan es Foto: thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan es Foto: thinkstock
ADVERTISEMENT
Fenomena hujan es terjadi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (30/9) sore. Hujan es tersebut sempat mengejutkan warga karena jarang terjadi di wilayah Jakarta.
ADVERTISEMENT
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, membenarkan peristiwa tersebut.
“Betul sekali, sore ini terjadi hujan es di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Fenomena ini sempat mengejutkan warga karena cukup jarang terjadi di Jakarta,” jelas Guswanto saat dihubungi kumparan, Selasa (30/9).
“Menurut laporan warga dan video yang beredar, hujan deras disertai angin kencang turun sekitar pukul 15.05 WIB, dan selama sekitar satu menit terlihat butiran es kecil seperti kerikil jatuh bersama hujan,” tambahnya.
Menurut Guswanto, hujan es bisa terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, terutama pada masa peralihan musim atau pancaroba.
Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
“Kami BMKG menjelaskan bahwa hujan es bisa terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, terutama saat masa peralihan musim (pancaroba). Kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan Comulonimbus—awan hujan yang sangat tinggi dan padat—dapat menyebabkan terbentuknya butiran es di lapisan atas atmosfer yang kemudian jatuh ke permukaan,” ujar Guswanto.
ADVERTISEMENT
Ia menambahkan, fenomena ini terdeteksi oleh BMKG melalui radar cuaca.
“Pantulan dari presipitasi, gelombang ini memantul kembali dari partikel presipitasi (tetesan air, kristal es, dan lain-lain) di atmosfer,” papar Guswanto.
“Reflektivitas radar adalah ukuran kekuatan sinyal yang dipantulkan kembali ke radar oleh presipitasi (hujan, salju, es) dan dinyatakan dalam unit desibel reflektivitas (dBZ). Semakin merah berarti suhu puncak awan sudah bisa mencapai -55 derajat Celcius, dan ini sudah berupa butiran es,” tutupnya.