Fenomena Sekolah Anak Jadi 'Gengsi' Ortu di Yogya, Bukan Gawai atau Kendaraan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi siswa sekolah. Foto: Ruud Suhendar/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa sekolah. Foto: Ruud Suhendar/Shutterstock

Viral di media sosial, ratusan orang tua antre dari subuh untuk mendaftarkan anaknya di bimbingan belajar (bimbel) Exist yang terletak di sebuah gang di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Bagi sebagian orang tua dari kalangan menengah di Yogyakarta, sekolah anak menjadi topik yang lebih sering dibicarakan daripada kendaraan pribadi, gawai terkini, atau barang mewah lainnya.

Obrolan orang tua seputar pilihan sekolah, tempat les, hingga kegiatan yang dinilai dapat mengembangkan kemampuan dan minat anak menjadi hal yang umum dibicarakan.

Sejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparan

Fenomena tersebut dirasakan Astri Wulandari, seorang ibu di Yogyakarta.

"Sejauh yang aku alami memang kalau di Yogya itu aku enggak tahu terlepas dari stigma Yogya adalah Kota Pelajar atau bukan, tetapi di Yogya emang kenyataannya setiap kita ketemu sama orang tua, sesama orang tua tuh pasti yang diomongin tentang sekolah, gitu," kata Astri, Rabu (2/9).

Menurutnya, ini adalah pertanda baik karena orang tua di Yogya punya sudut pandang yang luas tentang bagaimana mereka bertanggung jawab penuh untuk masa depan anak-anak mereka, terutama di bidang pendidikan.

"So far kalau misalnya aku ketemu orang baru atau teman-teman kerja yang sehari-hari tuh yang kita omongin adalah sekolah anak, terus kemudian pilihan les. Les yang mungkin kaitannya selain les mata pelajaran juga les hobi, kayak gitu-gitu. Intinya yang bagaimana untuk meningkatkan kemampuan anak-anak kita," katanya.

Rp 17 Juta untuk Masuk SD

Pendidikan yang baik sudah diberikan Astri kepada anaknya sejak dini. Saat ini, anak Astri duduk di kelas I sekolah dasar swasta favorit di Yogyakarta.

"Kayaknya kategori sekolah anakku, ya (biaya daftarnya) Rp 17 juta," katanya.

Astri juga memberikan berbagai les untuk anak, seperti panjat tebing, les drum, dan les sains.

"Les sains itu kaya praktik-praktik bikin (karya sains) apa gitu," ujarnya.

Astri pun tak heran ketika viral orang tua di Yogya berebut tempat bimbel. Menurutnya, banyak orang tua yang berusaha memasukkan anaknya di SMA negeri favorit melalui jalur prestasi.

Sejumlah orang tua mengantre untuk mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist di Jalan Gayam, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). Foto: Panji/kumparan

Biasanya, ketika tak bisa masuk sekolah negeri yang dituju, orang tua akan memasukkan anaknya ke SMA swasta yang harganya lumayan mahal.

"Jadi ketika kamu masuk ke dalam satu ekosistem yang itu SD favorit, jalurnya tuh udah kelihatan, dia pasti akan masuk ke SMP favorit, SMA favorit, nanti perguruan tingginya juga gitu," katanya.

"Jadi, mungkin ya kalau negeri kan secara biaya enggak seluar biasa kalau swasta, karena berdasarkan hasil pengamatanku dan mensurvei sekolah-sekolah juga ternyata sekolah swasta di Yogya tuh luar biasa mahal," katanya.

Masuk PAUD Favorit meski Menguras Kantong

Kumoro, orang tua lainnya, menjelaskan dia dan istri rela merogoh uang lebih demi pendidikan anaknya.

"Anak saya dari PAUD sampai TK di yayasan swasta. Rencana SD lanjut di situ. Dulu biaya masuk PAUD Rp 6 juta, TK Rp 7 juta," kata Kumoro.

Meski anaknya masih TK, Kumoro juga sudah mendaftarkan anaknya ke SD. Tujuannya agar mendapat kuota.

"Kalau telat bisa nggak dapat. Ya bayar masuk sekitar Rp 9 juta," katanya.

Demi sekolah anak, Kumoro harus selektif dalam pengeluaran.

"Ya belanja pakaian kalau benar-benar butuh. Gawai dan kendaraan juga selama masih layak ya nggak perlu ganti," pungkasnya.

Les Coding hingga Grafis

Wicaksono mengatakan pendidikan anak adalah hal yang paling penting.

Anaknya yang kini kelas 9 SMP sudah mengikuti berbagai les sejak kecil.

"Ada les coding, grafis, animasi, hingga drum dan Bahasa Inggris. Kebetulan minatnya di IT," kata Pribadi.

Untuk biaya les ini, dia menghabiskan sekitar Rp 3 juta untuk coding selama satu semester. Lalu, untuk animasi sekitar Rp2,5 juta per tiga bulan.

"Drum lesnya Rp 1,5 juta untuk dua bulan," katanya.

Dia berharap anaknya bisa masuk kuliah di jurusan animasi ISI Yogyakarta seperti cita-cita sang anak.

"Ya semoga. Namanya untuk anak berusaha yang terbaik," ujarnya.