Fenomena Siang Hari Lebih Panjang di Indonesia, Apakah Hal Biasa?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi langit. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi langit. Foto: Shutterstock

Belakang ini siang hari lebih panjang dari malam hari. Bila dilihat, waktu terbit matahari di wilayah Jakarta misalnya, sekitar pukul 05.34 WIB dan matahari terbenam pukul 17.46 WIB.

Mengapa hal itu terjadi?

Profesor Dr. Thomas Djamaluddin, astronom sekaligus peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, fenomena siang lebih panjang dari malam hari saat ini merupakan fenomena tahunan. Seperti halnya negara-negara yang mengalami empat musim. Saat musim panas, siang hari akan lebih panjang dari malam.

"Sama saja prinsipnya dengan musim panas dan musim dingin. Kalau musim panas kan siangnya lebih panjang. Cuma karena di Indonesia tidak terlalu ekstrem musim panasnya, kan," ucap Thomas kepada kumparan, Senin (10/10).

Thomas menjelaskan, untuk wilayah Jawa dan wilayah di selatan ekuator (khatulistiwa), siang hari lebih panjang dari malam hari sejak akhir September hingga Maret nanti. Hal ini disebabkan karena posisi matahari berada di belahan langit selatan.

"Siklus tahunan posisi matahari itu disebabkan karena kemiringan sumbu rotasi bumi," jelasnya.

Siklus tahunan posisi matahari adalah sebagai berikut:

  • 22 Desember paling selatan.

  • 21 Maret tepat di ekuator (terbit tepat di titik timur, terbenam di titik barat).

  • 22 Juni paling utara.

  • 23 September tepat di ekuator.