Filipina Akan Deportasi 40 Ribu Pekerja Judi Online Ilegal Asal China
·waktu baca 3 menit

Filipina akan mendeportasi sejumlah 40.000 pekerja asal China di bidang bisnis gim judi online ilegal. Pemulangan ini menyusul adanya berbagai laporan penculikan, prostitusi, hingga pembunuhan di industri perjudian ilegal negara itu.
Laporan itu disampaikan oleh pihak juru bicara Kementerian Kehakiman Filipina, Dominic Clavano, pada Selasa (27/9).
“Bulan depan Filipina akan mulai mendeportasi sekitar 40.000 pekerja China yang dipekerjakan oleh bisnis-bisnis tersebut,” ujar Clavano, seperti dikutip dari AFP.
Sebelumnya, Menteri Kehakiman Crispin Remulla telah memerintahkan aparat kepolisian untuk memburu 175 operator gim judi online yang lisensinya sudah dicabut namun masih beroperasi secara ilegal.
Industri gelap itu diduga terlibat dalam kasus pembunuhan, penculikan, dan prostitusi.
“Ini benar-benar tugas kami untuk masyarakat dan memastikan bahwa kejahatan ini tidak dilakukan,” imbuh Clavano.
“Kami pikir yang terbaik adalah mengirim sinyal bahwa jenis perilaku ini tidak dapat ditoleransi, tidak dapat diterima oleh negara,” tegas dia.
China menyambut tindakan keras otoritas Filipina dengan baik. Sebelumnya, pihak Beijing juga telah meminta pemerintah Manila untuk melarang semua aktivitas perjudian online.
“Kejahatan yang dipicu oleh dan terkait dengan perjudian online tidak hanya merugikan kepentingan China dan hubungan China-Filipina, tetapi juga merugikan kepentingan Filipina,” kata Kedutaan Besar China di Manila.
Sudah Menjadi Tren Sejak 2016
Operator judi online yang website-nya dioperasikan dari negara lain (Philippine Offshore Gaming Operator/POGO) telah berkembang pesat di Filipina sejak 2016 lalu, ketika mantan presiden Rodrigo Duterte meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi dengan China.
Menurut regulator gim Filipina, terdapat sekitar 34 POGO telah diberi lisensi untuk beroperasi beserta dengan 130 layanan dukungannya yang terdaftar hingga saat ini.
Meski kerja sama itu memberikan dampak yang baik bagi perekonomian Filipina, namun dengan masuknya puluhan ribu pekerja China yang menargetkan korban judi online ilegal dari sesama wilayah China itu secara otomatis menimbulkan gesekan antara hubungan kedua negara.
Selain itu, banyak pula keluhan dari masyarakat Filipina terkait keberadaan POGO. Sebab, POGO memengaruhi sistem pembayaran pajak dan menaikkan tarif properti, tapi di saat bersamaan mereka tidak membantu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Hal ini dipicu oleh tidak cukup banyaknya penduduk yang fasih berbahasa Mandarin, sementara pekerja asal China tersebut tidak berbahasa Tagalog.
Menimpali pernyataan dari Kedubes China, Menteri Keuangan Benjamin Diokno pada awal bulan ini juga mengatakan keinginannya untuk melarang POGO dari Filipina.
“Jika Anda menanyakan pendapat pribadi saya tentang hal ini, mari kita hentikan POGO karena biaya sosialnya,” ujar Diokno di hadapan sidang senat.
Judi Online di Filipina Berdampak pada Indonesia
Filipina sebagai salah satu pusat judi online juga berdampak bagi Indonesia. Sejumlah website judi online yang bisa dimainkan di Indonesia ternyata servernya disimpan di Filipina.
Pada Agustus 2022, Polresta Denpasar membongkar kasus judi online di sebuah Homestay Pondok Indah, Jalan Campuhan I, Kelurahan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Server situs judi online ini terdeteksi berpusat di Filipina. Sehingga polisi menduga sindikat judi online ini sempat beroperasi di Filipina dan pindah ke Pulau Dewata. Polisi belum mengungkap alasan sindikat judi online ini pindah wilayah.
