Film 'Pengantin', Kisah Nyata Perempuan yang Terlibat Aksi Radikal

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Kelompok radikal bukan hanya menyasar para pria, tetapi kini sudah menyasar perempuan dan anak-anak. Dengan berbagai propaganda, mereka membuat para perempuan terlibat aksi radikalisme hingga berujung pada aksi bom bunuh diri.

Banyaknya kasus yang menimpa perempuan, membuat Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, menggarap sebuah film dokumenter berjudul 'Pengantin' yang diangkat dari kisah nyata perempuan yang terseret kelompok radikal.

Rizka, Peneliti Yayasan Prasasti Perdamaian, menjelaskan film ini memiliki misi edukasi agar tidak ada korban wanita lainnya yang terjerat paham radikalisme. Film ini juga tidak bersifat komersial.

"Film ini untuk sebagai bahan diskusi, bahan pembelajaran yang nantinya akan diputar ke kumpulan TKI, lembaga pemerintah, mungkin bisa saja kampus, yang penting untuk pembelajaran mereka," ujar Rizka.

Dia mengisahkan film dokumenter ini adalah perjalanan dirinya bertemu dengan tiga perempuan TKI yang terlibat dengan jaringan radikalisme.

"Film dokumenter ini kisah nyata, jadi benar-benar ngikutin perjalananku untuk ngikutin tiga perempuan ini," ujar Rizka, saat dihubungi kumparan, Selasa (22/4).

Rizka menuturkan dalam film ini, ada dua perempuan yang terlibat paham radikal, dan satu perempuan yang berhasil menolak paham radikal.

Tiga perempuan itu adalah Dian narapidana teroris kasus bom panci di Istana , Ika terlibat pendanaan teroris, dan Fatma, sosok perempuan yang sempat hampir bergabung di kelompok radikal.

video youtube embed

Dian dan Ika adalah TKI yang saat itu sedang mengalami kegalauan di hidupnya. Mereka termakan doktrin mengerikan dari paham terorisme sehingga berani menjadi pengantin bom bunuh diri menyerang negara sendiri. Sedangkan Fatma, sosok wanita yang tidak terdoktrin untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

"Mereka ternyata didoktrin di media sosial sama kelompok radikal, justru sama sekali nggak pernah mengikuti kelompok pengajian, benar-benar dari media sosial. Setelah itu berubah, yang awalnya enggak pakai kerudung jadi pake kerudung," ujar Rizka.

Dalam film ini peran media sosial dalam penyebaran paham radikalisme terlihat begitu kuat. Bahkan dua perempuan di film ini diceritakan rela dinikahi secara online oleh pria yang dikenalnya lewat media sosial.

Pembuatan film ini dilakukan sejak September 2017. Perlu pendekatan berbulan-bulan bagi Rizka untuk meyakinkan Dian, Ika, dan Fatma agar kisah mereka difilmkan. Proses pembuatan film ini juga telah mendapatkan izin dari Densus, 88 Polri.

Rencananya film dokumenter ini akan rilis setelah lebaran. Film ini bisa ditonton di YPP atau lembaga yang bekerja sama dengan YPP.

Trailer Film 'Pengantin' (Foto: Dok.Yayasan Prasasti Perdamaian)