Forensik Sebut Mantan Istri Polisi yang Bunuh Diri Tempelkan Pistol ke Kepalanya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bunuh diri. Foto: soumen82hazra/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bunuh diri. Foto: soumen82hazra/Shutterstock

Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan menjelaskan luka tembak senjata api pada tubuh wanita berinisial WLG, yang merupakan mantan istri dari polisi di Medan berpangkat Brigadir ISH.

Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Mistar Ritonga, menjelaskan ciri-ciri luka tembak pada tubuh korban merupakan luka tempel.

Adapun ciri-ciri luka tembak tersebut ada empat, yakni luka tembak dekat, luka tembak sangat dekat, luka tembak tempel dan luka tembak jauh.

"Jadi berdasarkan keilmuan yang kita miliki dan hasil pemeriksaan kita secara langsung kepada korban, itu kita jumpai ciri-ciri luka tembaknya itu adalah luka tembak tempel namanya," kata Mistar saat ditemui di Polrestabes Medan, Kamis (6/8).

Mistar menuturkan, senjata api yang digunakan oleh korban untuk bunuh diri menempel di bagian kepalanya sebelah kanan.

"Iya (ditempel tepat di kepala). Kalau luka tempel itu berarti senjatanya menempel ke kulit," ujar Mistar.

Dokter Forensik RS Bhayangkara Medan, Mistar Ritonga saat ditemui di Polrestabes Medan, Kamis (6/8/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Mistar menjelaskan, alasan luka tembak tersebut tidak tembus karena kecepatan anak peluru memiliki faktor yang memengaruhi, termasuk gesekan pada tulang yang keras pada tengkorak.

"Jadi seperti yang kita ketahui sebenarnya, untuk kecepatan anak peluru itu banyak faktor yang memengaruhinya. Jadi, kalau dia bergerak, kalau misalnya dia ada bias ataupun gesekan-gesekan ke bendar lain, tentu kecepatannya itu akan melambat," ucap Mistar.

"Jadi kalau pada kasus ini kelihatannya itu, itu kan dia melalui beberapa yang keras, tulang. Dari luka tembak masuk yang di sebelah kanan, itu malah dia menelusuri dasar tengkorak kepalanya itu, sampai retak malah. Baru dia menembus ke sebelah kiri. Jadi tenaganya itu sudah tidak kuat lagi untuk menembus. Jadi dia terhenti di bawah kulit," sambung Mistar.

Mistar menuturkan, luka tembak tersebut membuat pembuluh darah atau sirkulus willis pecah sehingga adanya penumpukan atau pembendungan darah di kelopak matanya.

"Kedua kelopak matanya kalau karena pecahnya akibat lukanya pembuluh darah yang di dasar tengkorak itu pecah dia, namanya sirkulus willis. Jadi memang mungkin kalau orang awam kurang ngerti. Kalau pecah itu dia, pasti ini terjadi penumpukan apa, pembendungan darah di kelopak matanya. Makanya disebut juga hematoma kacamata (lebam). Dan itu bukan karena kekerasan dari luar, karena pecahnya pembuluh darah tadi," jelas Mistar.

Suasana kediaman keluarga mantan istri polisi yang tewas di rumahnya, Medan, Rabu (5/8/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Mistar menyebutkan, proyektil peluru tersebut ditemukan peyot atau tidak utuh karena benturan tulang di dalam kepala korban.

"Proyektor itu pun dia sudah peyot-peyot karena terbentur di tulang tadi. Tidak utuh lagi," imbuh Mistar.

Sebelumnya, seorang wanita berinisial WLG ditemukan tewas di rumahnya di Kelurahan Cinta Damai, Medan Helvetia, Kota Medan, Minggu (2/8). Ia bunuh diri dengan menembakkan pistol milik mantan suaminya yang anggota polisi berpangkat Brigadir berinisial ISH.