Fosil Homo Erectus Ditemukan di Dasar Selat Madura

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penemuan fragmen fosil Homo erectus dari dasar Selat Madura. Foto: Dok. Universitas Leiden
zoom-in-whitePerbesar
Penemuan fragmen fosil Homo erectus dari dasar Selat Madura. Foto: Dok. Universitas Leiden

Gabungan arkeolog dari institusi Indonesia, Belanda, Jepang, China, dan Australia menemukan fosil manusia purba Homo erectus di dasar laut Selat Madura. Dalam keterangan yang dibagikan Universitas Leiden, temuan ini memberikan gambaran terbaru Homo erectus yang hidup 140 ribu tahun yang lalu.

Dalam operasi pengerukan yang dilakukan di Selat Madura, arkeolog menemukan peninggalan fosil dari 36 spesies vertebrata (hewan bertulang belakang --red). Universitas Leiden mengungkapkan, itu menjadi penemuan fosil vertebrata pertama di dasar laut Indonesia.

Lokasi pengerukan dulunya disebut Sundaland, yang di masa purba merupakan daratan yang luas.

"Di antara temuan tersebut terdapat dua fragmen tengkorak Homo erectus. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan gambaran unik tentang ekosistem prasejarah dan posisi Homo erectus dalam ekosistem tersebut," kata Universitas Leiden dalam keterangannya, dikutip Selasa (20/5).

Sebelumnya, fosil Homo erectus pernah ditemukan di sekitar Pulau Jawa seperti Trinil, Sangiran, dan Ngandong. Para peneliti bahkan mengira Homo erectus hidup terisolasi di Jawa selama ratusan ribu tahun.

Namun, temuan baru menunjukkan bahwa Homo erectus juga menyebar ke dataran rendah di luar Jawa selama periode saat permukaan laut berada pada titik rendah. Populasi ini kemungkinan mengikuti jalur pinggir sungai besar.

"Di jalur pinggir sungai itu, mereka mendapatkan air, kerang, ikan, buah, dan biji-bijian sepanjang tahun. Sudah diketahui bahwa Homo erectus mengumpulkan kerang sungai. Di antara peninggalan fosil yang baru, kami juga menemukan bekas potongan tulang kura-kura dan banyak patahan tulang sapi yang menunjukkan adanya perburuan dan konsumsi sumsum tulang," kata peneliti Universitas Leiden, Harold Berghuis.

Temuan itu juga menunjukkan bahwa Homo erectus di Sundaland berburu secara aktif. Mereka mengincar hewan yang sehat dan kuat.

"Cara hidup seperti ini tidak kami ketahui sebelumnya pada populasi Homo erectus di Jawa, tetapi kami mengenalinya pada populasi jenis-jenis manusia yang lebih modern di benua Asia. Mungkin, Homo erectus meniru praktik ini dari mereka. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kontak antara kelompok-kelompok itu, atau bahkan terjadi percampuran genetik," kata Berghuis.

Penemuan Fosil di Dasar Selat Madura Menarik

Penemuan fragmen fosil Homo erectus dari dasar Selat Madura. Foto: Dok. Universitas Leiden

Penemuan fosil Homo erectus di dasar Selat Madura menarik. Ribuan tahun yang lalu, Sundaland merupakan dataran yang sangat luas dan permukaan lautnya rendah. Pulau-pulau Indonesia yang dikenal masyarakat saat ini merupakan puncak bukit dari dataran Sundaland.

"Homo erectus menyebar melalui daratan ini dari Asia ke Jawa," ungkap Berghuis.

Sebagian besar Sundaland kini telah tenggelam, membentuk Laut Jawa, Laut China Selatan, dan Selat Madura. Penemuan fosil sebelumnya belum pernah ditemukan di wilayah-wilayah itu.

"Hal ini membuat temuan kami benar-benar unik. Fosil-fosil tersebut berasal dari lembah sungai yang tenggelam, yang seiring waktu telah terisi dengan pasir sungai. Kami telah memastikan umur material tersebut sekitar 140 ribu tahun lalu," jelasnya.

"Itu adalah periode glasial terakhir. Sebagian besar belahan bumi utara ditutupi oleh gletser, dan karena begitu banyak air tersimpan dalam lapisan es, permukaan laut global saat itu 100 meter lebih rendah dari sekarang," lanjutnya.

Hasil penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal berjudul 'Quaternary Environments and Humans'. Koleksi fosil yang ditemukan kini disimpan di Museum Geologi, Bandung.

Berikut adalah institusi dalam negeri dan luar negeri yang terlibat dalam penemuan fosil tersebut:

Institusi Indonesia

1. Museum Geologi Bandung

2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Organisasi Riset Arkeologi

3. Badan Geologi Kementerian ESDM, Pusat Survei Geologi

4. Universitas Gadjah Mada

5. Kementerian Kebudayaan

Institusi luar negeri

1. Universitas Leiden (Belanda)

2. Universitas Twente (Belanda)

3. Universitas Tokyo (Jepang)

4. Universitas Shandong (China)

5. Universitas Wollongong (Australia)

6. Universitas Griffith (Australia)

Dukungan teknis

1. PT Van Oord Indonesia

2. PT Berlian Manyar Sejahtera

3. PT Pelabuhan Indonesia