Foto: Aktivitas Survei Nasional Kesejahteraan Hewan dalam Kafe di Jepang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Jepang telah memulai survei nasional pertamanya tentang kafe hewan di tengah kekhawatiran tentang kesejahteraan hewan, kebersihan, dan kesehatan masyarakat.

Survei berbasis data sekunder, yang dimulai bulan ini, akan meneliti jumlah fasilitas, jenis hewan yang mereka pelihara dan kondisi tempat mereka dipelihara, serta bagaimana pengunjung berinteraksi dengan hewan.

Kafe hewan eksotis, tempat pengunjung dapat berinteraksi dengan berbagai spesies mulai dari berang-berang hingga burung hantu dan marmut, telah menjadi daya tarik populer bagi wisatawan Jepang dan asing.

Tetapi para peneliti mengatakan beberapa fasilitas memelihara spesies yang terancam punah, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang kesejahteraan hewan dan perdagangan satwa liar.

Jepang tidak memiliki standar khusus yang mengatur kafe semacam itu dan penanganan banyak spesies eksotis, kata Takuya Ishikawa, seorang pejabat di Kementerian Lingkungan Hidup.

Dari sekitar 80 kafe hewan liar terdaftar di Tokyo dan Osaka, tiga perempatnya juga terdaftar untuk menjual hewan, menurut laporan terpisah oleh WWF dan Universitas Hokkaido.

Para peneliti yang mengunjungi 25 kafe menemukan lebih dari 1.700 hewan yang dipajang, 27% di antaranya adalah spesies yang terancam punah.

Lebih dari 90% kafe juga memajang hewan yang dianggap berisiko tinggi menyebabkan cedera melalui kontak, sementara sampel dari empat kafe dinyatakan positif mengandung E. coli enterohemoragik (EHEC), yang dapat menyebabkan diare berdarah.

Syaina Nozaki, manajer Owl Otter Cafe, memegang makanan untuk berang-berang cakar kecil Asia di kafe tersebut, yang menampung hewan-hewan yang diselamatkan, di Kamakura, Prefektur Kanagawa, Jepang, Rabu (24/9/2026). Foto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS