Foto: Bertahan Usai PHK, Kisah Zaenudin Bertahan Hidup Lewat Ikan Sapu-Sapu

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Seorang nelayan ikan sapu-sapu, Zaenudin (39), berhasil mempertahankan kehidupan keluarganya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada masa pandemi COVID-19. Selama enam tahun terakhir, ia menggantungkan penghasilan dari mencari ikan sapu-sapu di wilayah Tangerang Selatan dan sekitar.

Setiap hari, Zaenudin memulai aktivitasnya sejak pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, ia biasanya mampu mengumpulkan hingga satu karung ikan sapu-sapu dengan berat sekitar 50 kilogram.

Ia menuturkan bahwa profesi sebagai pencari ikan sapu-sapu bukan hal baru di lingkungannya di kawasan Bogor. Banyak warga setempat yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan tersebut. Bahkan, pekerjaan ini telah menjadi mata pencaharian turun-temurun di keluarganya.

“Dari kakek saya, bapak saya, sampai sekarang saya, semua menggantungkan hidup dari ikan sapu-sapu,” ujarnya.

Hasil tangkapan tersebut kemudian dijual dengan harga berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram untuk daging ikan. Sementara itu, telur ikan sapu-sapu memiliki nilai jual lebih tinggi, yakni antara Rp 18.000 hingga Rp 30.000 per kilogram.

Menurut penuturan Zaenudin, hasil tangkapan ikan sapu-sapu yang ia kumpulkan setiap hari juga memiliki pasar tersendiri. Ia menyebut, para konsumennya kerap memanfaatkan daging ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan untuk berbagai hewan peliharaan, mulai dari ikan hias seperti arwana, hingga bebek dan anjing.

Sementara itu, bagian telur ikan sapu-sapu memiliki nilai guna yang berbeda. Telur tersebut biasanya dibeli untuk dijadikan campuran pelet, yang digunakan sebagai umpan oleh para pemancing. Bagi para penghobi memancing, campuran ini dipercaya lebih efektif untuk menarik perhatian ikan.

Nelayan ikan sapu-sapu mengolah daging ikan sapu-sapu di kawasan Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan