Foto: Garda Pengawal Warisan Budaya Wayang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah anak belajar mendalang wayang kulit di Sanggar Nirmalasari. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anak belajar mendalang wayang kulit di Sanggar Nirmalasari. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Setiap hari Minggu di pagi hari biasanya bocah-bocah kecil berkumpul dan bermain bersama di rumah atau lapangan lingkungan tempat mereka tinggal. Namun tidak bagi Bayu dan bocah lainnya yang memilih untuk mengasah kemampuannya bercerita.

Bukanlah jadi kebiasaan bagi anak kecil pada umumnya bercerita sambil memainkan wayang kulit. Ya, bukan sembarang bercerita, mereka berlatih untuk menjadi dalang.

Empat orang anak belajar mendalang wayang kulit di Sanggar Nirmalasari. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Bocah-bocah ini dengan tekun mempelajari ilmu pewayangan dan pedalangan wayang kulit di Sanggar Nirmalasari, Cinere, Depok, Jawa Barat.

Penguasaan karakter wayang, gamelan dan tembang menjadi dasar utama untuk mereka nantinya mencapai keahlian wiraga (tata gerak), wirama (gerakan mengikuti irama yang harmonis) dan wirasa (penghayatan yang diekpresikan dalam gerak wayang).

Seorang anak belajar mendalang wayang kulit di Sanggar Nirmalasari. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Sehingga nantinya bisa menjadi dalang yang mampu membawa imajinasi penonton dalam pementasannya, demikian Ki Asman Budi Prayitno pengasuh sanggar menuturkan secara ringkas tentang pedalangan.

Ki Asman Budi Prayitno mendirikan sanggar tersebut pada 1 Juni 1987 sebagai bentuk dedikasinya untuk eksistensi dan kelestarian wayang kulit dan memfokuskan pelatihan kepada anak usia lima hingga 12 tahun untuk belajar dasar ilmu pedalangan.

Seorang anak belajar suluk (tembang pembuka) saat berlatih mendalang wayang kulit di Sanggar Nirmalasari. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Bayu Ananta, siswa kelas lima SDN Kelapa Dua 06 Pagi bercerita dirinya sudah senang dengan wayang kulit sejak usia tiga tahun. Bayu mulai ikut belajar di Sanggar Nirmalasari sejak umur lima tahun dan sudah cukup mahir mendalang hingga pernah pentas di sejumlah kota.

Ki Asman Budi Prayitno menceritakan sejarah wayang kullit purwa di kediaman yang sekaligus dijadikan Sanggar Nirmalasari untuk mendidik calon dalang cilik. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

"Cita-citaku ingin menjadi seorang Dalang,"kata Bayu.

Proses pengajaran ilmu pedalangan memang tidaklah mudah, namun semua itu terbayarkan dengan banyaknya prestasi yang diraih dari hasil pendidikan di Sanggar Nirmalasari.

Seorang orang anak belajar suluk (tembang pembuka) saat berlatih mendalang wayang kulit di Sanggar Nirmalasari. Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Wayang tak sekadar seni dan budaya. Wayang adalah sebuah seni pertunjukkan Indonesia yang telah diakui dunia karena keunikan yang dimilikinya. UNESCO pada 7 November 2003 juga telah menobatkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur asli Indonesia.

Pelestarian dan estafet penguasaan ilmu dalang yang adiluhung sangat penting dan layak dipertahankan agar wayang sebagai warisan dunia tak benda ini terus lestari dan jatidiri bangsa tidak luntur oleh perubahan zaman yang semakin cepat dan menggilas.

***

embed from external kumparan