Foto: Kisah Burung Pelikan dan Lansia di Tepi Laut Kuba
·waktu baca 2 menit

Michale si bangsawan dan Panchito si penyayang adalah beberapa nama yang diberikan Leonardo Carillo kepada burung pelikan yang berduyun-duyun datang setiap tahun ke gubuk kayunya di pantai selatan Kuba.
Selama dua dekade terakhir, pria berusia 62 tahun itu telah merawat sekitar 100 koloni pelikan coklat yang mendarat di desanya, Guanimar. Pada bulan Desember, burung pelikan akan ramai sebelum kembali ke utara pada bulan Mei.
"Saya merasa sangat kesepian ketika pelikan pergi," kata Carillo.
"Mereka pada dasarnya seperti anak-anak saya dan saya merindukan mereka setiap hari," katanya.
Carillo sebenarnya mempunya tiga anak, dua tinggal di Isle of Youth dan satu lagi di kota terdekat. Carillo masih belum bertemu kembali anaknya karena pandemi corona.
Burung pelikan coklat merupakan salah satu dari dua spesies yang dapat ditemukan di Kuba. Burung dengan paruh panjang dan kantong di tenggorokan itu digunakan untuk menangkap ikan.
“Mungkin semua terlihat sama, tetapi pada kenyataannya masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda,” katanya.
Carillo juga memberi makan untuk burung-burung pelikan tersebut dari mengumpulkan sisa makanan dari desa. Ia juga merawat burung pelikan yang terluka disebabkan oleh kail pancing.
"Saya suka merawat mereka karena mereka adalah burung yang mulia dan penyayang," ujarnya.
Burung pelikan membuatnya sibuk selama setengah tahun saat dia mencoba memberi mereka makan tiga hingga empat kali sehari. Bukan tugas yang mudah di negara yang sedang mengalami krisis ekonomi terdalam dalam beberapa dekade terakhir.
"Selama saya hidup, saya akan terus menjaga mereka," janjinya.
***
