Foto: Potret Belajar Siswa di Desa Terpencil Filipina saat Pandemi Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Siswa Aeta mengikuti sesi belajar becak darurat di pusat pembelajaran jarak jauh komunitas Aeta di Porac, Pampanga, Filipina. Foto: Eloisa Lopez/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Siswa Aeta mengikuti sesi belajar becak darurat di pusat pembelajaran jarak jauh komunitas Aeta di Porac, Pampanga, Filipina. Foto: Eloisa Lopez/REUTERS

Ketika pandemi corona menutup sekolah-sekolah di Filipina, sekelompok guru yang tinggal di dekat masyarakat adat Aeta, Filipina menunjukkan keprihatinannya.

Para guru itu membuat metode baru dengan menggunakan becak motor untuk membantu anak-anak dari komunitas tersebut belajar.

Sementara banyak siswa di Filipina dapat mengambil kelas online, desa Aeta di daerah pegunungan Utara Manila sebagain besar tidak terjangkau akses internet bahkan sinyal televisi pun tidak ada.

Jerico Lansang mengendarai becak motor menuju ke komunitas Aeta di Porac, Pampanga, Filipina. Foto: Eloisa Lopez/REUTERS

"Kami harus memikirkan cara alternatif untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak," kata Christopher Semsem, salah satu guru di belakang proyek dari Sekolah Terpadu Villa Maria.

Dengan menggunakan rak buku tua dan papan kayu, para guru membuat pusat pembelajaran darurat lengkap dengan monitor besar yang dipasang di atas becak sepeda motor. Dengan cara itu dapat membawa pelajaran ke desa-desa terpencil di pedesaan provinsi Pampanga, Filipina.

Sebelumnya, para guru melakukan pra-rekam video pembelajaran sebelum diputar di layar monitor untuk membantu para siswa belajar. Kehadiran metode ini disambut antusias para siswa Aeta dan orang tua.

Seorang guru sekolah umum menggunakan megafon memanggil siswa ke pusat pembelajaran becak darurat untuk belajar jarak jauh komunitas Aeta di Porac, Pampanga, Filipina. Foto: Eloisa Lopez/REUTERS

Sejak diluncurkan pada awal Oktober, becak telah mengunjungi lima desa dan menjangkau sekitar 500 siswa dari SD hingga SMA. Becak ini akan mengelilini desa dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Proyek oleh para guru ini sepenuhnya bersifat sukarela, meskipun pemerintah daerah menyediakan becak dan supir.

***

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.