Foto: Potret Penyandang Disabilitas Tuli-Bisu yang Jadi Penari

Ada suatu fenomena unik yang terdapat di sebuah desa kecil di Kabupaten Buleleng, Bali. Namanya Desa Bengkala, salah satu desa kecil yang jaraknya mencapai 100 km dari ibu kota Denpasar. Di desa yang memiliki penduduk sekitar 3.000 orang ini, terdapat komunitas Kolok yang jumlahnya sekitar 43 orang. Kolok dalam bahasa Bali artinya tuli-bisu.
Sebanyak 2 persen penduduk Desa Bengkala lahir dalam keadaan tuli-bisu. Desa Bengkala tercatat sebagai salah satu desa yang memiliki jumlah komunitas Kolok tertinggi di dunia, oleh karena itu sering disebut sebagai Desa Kolok.
Komunikasi sesama komunitas Kolok dilakukan dengan bahasa isyarat. Uniknya, bahasa isyarat yang digunakan komunitas Kolok di Desa Bengkala berbeda dengan bahasa Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) atau ISL (International Sign Language).
Masyarakat Desa Bengkala hidup berdampingan dengan rukun. Tidak ada diskriminasi dari warga Desa Bengkala terhadap komunitas Kolok. Masyarakat di luar komunitas Kolok juga diajarkan bahasa isyarat sejak kecil. Kini, hampir 80 persen masyarakat Bengkala mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Kolok.
Desa Bengkala menjadi Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM) Kolok Bengkala sejak tahun 2015 melalui Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina. Salah satu program dari KEM Kolok Bengkala adalah pelatihan seni dan kerajinan seperti kain tenun dan piring rotan. Uniknya, semua penari di Desa Bengkala adalah penyandang disabilitas tuli-bisu.
Hal tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. KEM Kolok Bengkala juga kerap menjadi tempat studi banding para pemerhati seni dan budaya dari berbagai negara.
