Fotografi Jurnalistik: Sebuah Panduan

“Melukis” suatu peristiwa yang sedang terjadi dengan kamera, tak semudah yang dibayangkan. Sekadar memotret tentu bisa, namun untuk menghasilkan pesan yang tepat untuk disampaikan kepada masyarakat, butuh usaha lebih besar.
Di situlah para jurnalis foto bergerak: untuk menyampaikan pesan penting kepada masyarakat.
Pesan tersebut didapat lewat jepretan kamera sang fotografer. Foto-foto itu menjadi medium untuk berkisah.
Saat seseorang mencoba mempelajari foto jurnalistik, ia harus memulanyai dengan mengerti cara pembuatan caption atau keterangan foto tunggal. Pembuatan foto esai bahkan sangat tergantung pada kemampuan seseorang dalam membuat foto tunggal yang “bercerita”.
Pada semua kategori foto jurnalistik, panduan gambar dan teks mutlak diperlukan, yakni kombinasi gambar dan tulisan seperti paragraf utama dalam sebuah cerita.
Gambar dan teks tersebut punya bobot yang sama penting, karena harus dapat menarik dan “menangkap” perhatian pembaca, serta memperkuat irama cerita.

Pada penulisan berita, foto sering kali berdiri sendiri dalam menggambarkan artikel tersebut. Tak ada foto lain untuk menjelaskan atau membantu membangun cerita.
Oleh sebab itu diperlukan dua keahlian bagi fotografer, yakni selaku “pencuri” informasi visual maupun teks, dan pelapor akurat suatu peristiwa.
Keadaan seperti itu tak pelak menekan seorang wartawan foto untuk dapat memperoleh foto yang bisa menggambarkan sebuah cerita.
Keyakinan terhadap foto tunggal digaungkan oleh Henri Cartier-Bresson, fotografer yang terkenal dengan teknik decisive moments. Bresson mengatakan, “Hanya ada satu momen (kesempatan) ketika semua elemen berada dalam keseimbangan.”

Bagaimana sebuah foto tunggal dapat dinilai?
Sebuah karya foto jurnalistik yang baik harus berdasarkan penilaian yang ketat. Dan penilaian terhadap foto tunggal bisa menggunakan kriteria sederhana, seperti disebutkan Frank Hoy dalam bukunya Photojournalism: The Visual Approach.
1. Kesegeraan. Sebagai bahasa visual, sebuah foto harus dapat secara cepat mengkomunikasikan sesuatu. Orang lain yang melihat foto itu harus segera mengerti pesan apa yang disampaikan.
2. Memancing emosi. Menurut John R. Whiting dalam bukunya, Photography is A Language, fotografi “seperti sebuah alat (untuk) mengungkapkan ide dan emosi.” Dalam hal ini, ujar Whiting, foto dapat menghasilkan perbedaan persepsi yang unik.
3. Menyajikan sudut pandang. Sebuah foto tunggal mengisolasi hanya satu sudut (bagian) dari sebuah peristiwa. Maka foto --yang memancing emosi masyarakat-- itu kemungkinan hanya sebuah fakta dari satu sisi peristiwa.
Ketiga poin tersebut membimbing fotografer jurnalistik untuk membuat foto peliputan yang dapat dimengerti penerima pesan (publik) secara sederhana dan dalam waktu singkat.
Sebuah karya fotografi dikatakan efektif apabila ketika orang-orang melihatnya, mereka tidak perlu terlalu banyak menganalisis atau menimbang.
Henri Cartier-Bresson mengatakan, “Memperhatikan sebuah foto dalam waktu lebih dari dua menit… itu terlalu lama.”
Untuk menilai sebuah foto, hal pertama yang harus diperhatikan adalah kecepatan (kesegeraan) pesan itu dapat diterima dan berpengaruh bagi yang melihatnya.
Dalam praktiknya, tiga kriteria penilaian yang telah dijelaskan di atas, bisa dilakukan secara bersamaan.
Apabila ada salah satu dari tiga kriteria itu yang hilang dari suatu foto jurnalistik, perlu diperhatikan secara teliti untuk menentukan letak kesalahannya di mana.

Fotografer harus tahu teknis memotret dengan apapun jenis kamera yang ia gunakan. Oleh sebab itu fotografer setidaknya mesti membaca buku panduan yang biasanya tersimpan dalam kardus kamera.
Kamera berbeda antara satu merek dengan lainnya. Dan tiap kamera memiliki kelebihan serta kekurangan pada teknologi yang terpasang padanya.
Meski begitu, seorang fotografer harus paham mengenai rana, diafragma, dan komposisi yang akan disajikan dalam foto.

Rana, yang lebih familiter dalam istilah bahasa Inggris-nya, shutter, ialah tirai atau katup lensa untuk menutupi permukaan atau sensor foto.

Sementara diafragma adalah komponen lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera.
Berikut detailnya:
1. Komposisi. Ialah cara mengatur semua elemen ke dalam sebuah gambar. Elemen itu termasuk garis, bentuk, warna, dan pencahayaan.
Secara umum, komposisi klasik biasanya mempunyai point of interest yang kuat, atau subjek utama yang langsung menarik perhatian. Suatu subjek bisa menarik perhatian karena beberapa hal, misalnya: karena posisi, jadi bagian dari elemen lain, kontras dalam warna atau intensitas dengan keadaan sekelilingnya, atau karena elemen-elemen yang disusun membuat bingkai atau panduan yang mengarahkan ke subjek utama.
2. Warna. Semua gambar yang menggunakan elemen warna harus mempunyai posisi sentral agar menjadi aksen yang mudah dikenali.
Jurnalis foto perlu belajar melatih mata untuk menentukan warna mana yang dominan, dengan menyeleksi dan mengurangi (memperkecil) jumlah warna di sebuah gambar, atau mengisolasi elemen yang penuh warna.
3. Cahaya. Arah jatuh cahaya atas subjek sangat penting untuk sebuah pemotretan. Dengan memindahkan subjek atau kamera dari arah jatuh sinar, akan diperoleh efek pencahayaan yang lebih baik.
4. Depth of field atau ruang tajam. Diperlukan terutama saat kita menentukan apakah subjek yang akan dipotret memerlukan ruang tajam yang luas atau sempit. Ruang tajam ditentukan oleh jarak antara subjek dengan kamera, bukaan lensa, dan panjang lensa.
5. Shutter speed atau kecepatan bukaan rana. Ini adalah permainan gerak pada fotografi yang dapat memengaruhi bias pencahayaan.
Pada shutter speed, fotografer mengontrol kecepatan rana dengan kecepatan subjek foto. Dari efek gerak itu, bias bisa dibuat dalam beberapa cara. Pertama, dengan kecepatan rana lebih tinggi daripada subjek foto. Hasilnya ialah foto freeze --subjek bergerak seolah-olah jadi berhenti atau membeku.
Kedua, dengan kecepatan rana lebih rendah daripada subjek foto. Hasilnya ialah foto shaking --dengan efek buram pada pergerakan subjek; atau foto panning --bergeser mengikuti subjek foto yang bergerak agar subjek terlihat tajam, dengan background buram, sehingga kesan pergerakan subjek terasa kuat.
6. Bentuk. Salah satu cara membuat foto yang menarik perhatian adalah memberi prioritas pada satu elemen visual. Bentuk-adalah salah satu cara efektif untuk mencapainya.
7. Garis. Fotografer yang kreatif kerap menggunakan garis dalam fotonya untuk mengarahkan perhatian pemirsa pada subjek utamanya. Sering kali garis-garis itu juga dipergunakan sebagai subjek.

Bagaimana seharusnya fotografer menyajikan foto pada liputan kekerasan?
Tahun lalu, pada acara Diskusi Ruang Tengah yang membahas cover Majalah Tempo edisi 18 Januari 2016 mengenai peristiwa teroris menembak petugas polisi dari jarak dekat, Direktur Eksekutif Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar Motuloh, mengatakan fotografi jurnalistik yang mengandung unsur kekerasan sudah terjadi sejak zaman perang dunia.
Ini karena foto dapat menjawab rasa ingin tahu publik akan informasi yang lengkap. Selain itu, fotografi jurnalistik merupakan inti pembuktian atas sebuah peristiwa yang ingin diketahui publik.
“Pekerjaan fotografer jurnalistik posisinya memang tipis sekali di antara memberi informasi dan kontroversi. Tapi dalam jurnalistik, seeing is believing. Dalam sejarah, kekerasan itu harus dicatat dan ada rekaman visualnya,” ujar Oscar.
Fotografer perang asal Amerika Serikat, James Nachtwey, mengatakan dalam film dokumenternya, War Photographer (2001), “I have been a witness, and these picture are my testimony. The events I have recorded should not be forgotten.”
Kesaksian yang direkam oleh mata dan kamera fotografer, banyak yang sudah di-publish dan bahkan lebih banyak yang unpublish atau tak dipublikasikan dengan pertimbangan kepantasan yang ditakar oleh seorang editor foto.

Berikut yang mesti dilakukan jurnalis foto saat memperoleh penugasan meliput isu kekerasan seperti bentrokan, tawuran, perang, korban kekerasan seksual, atau anak korban kekerasan:
1. Berangkatlah dengan pikiran tenang dan milikilah hati nurani untuk menimbang bagaimana nantinya gambar akan disajikan kepada masyarakat.
2. Apabila memotret di daerah bentrokan/tawuran/perang, tempatkan diri pada area paling aman untuk pengambilan foto. Dan editlah foto menjadi hitam-putih apabila memotret korban yang bersimbah darah.
3. Jagalah privasi korban kekerasan seksual agar wajahnya tidak terlihat ke publik. Fotografer harus sadar bahwa saat memotret wajah korban, foto tidak diambil secara frontal untuk ditunjukan kepada masyarakat.
4. Fotografer harus memahami simbol-simbol dalam satu peristiwa, maupun kebutuhan foto ilustrasi untuk menambah kekuatan pada penulisan.
Selamat berjuang!

